Selamat Datang di Website Resmi Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua. Alamat:Jln.Argapura 9,Kotak Pos 1160,Jayapura 99222,Papua, Fax: (0967)533192 informasi mail : wirewit.gkiditanahpapua@gmail.com / hp : (+62) 0821-9930-1804

MISI PEKABARAN INJIL GKI DI TANAH PAPUA DARI SUDUT PANDANG DIAKONIA

MISI PEKABARAN INJIL GKI DI TANAH PAPUA

DARI SUDUT PANDANG DIAKONIA

(Oleh: Pdt. Anthon Rumbewas, STh, M.Teol.)

“Gereja yang hidup adalah gereja yang memberitakan Injil dan membaharui kehidupan”

Dan sebaliknya:

“Jika anda bertanya kepada seseorang, mengapa anda tidak makan?

 maka anda adalah seorang ateis. Tetapi jika anda memberi makan seseorang,

maka anda adalah seorang hamba yang melayani”

1.PENGANTAR

Gereja tidak memiliki tujuan pada dirinya sendiri, melainkan dibentuk supaya menjadi alat pelaksana misi Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus di dalam dunia. Hendrikus Berkhof,mengatakan di satu pihak gereja sebagai komunitas manusia dan di pihak lain tugas pemberitaan Injil sebagai aktivitas manusia adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus (1964:30). “…Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh.20:21). Jadi menurutnya (h.38), gereja tidak lebih dari instrumen (Church is not more than the instrument), atau instrumen dalam misi agung Roh Kudus (an instrument in the great mission of the spirit). Karena gereja adalah instrumen Allah untuk melayani di dalam dunia, maka gereja memiliki fungsi-fungsi pelayanan yang disebut tripanggilan gereja. Tripanggilan itu adalah koinonia=persekutuan, marturia=kesaksian, dan diakonia=pelayanan. Agar tugas-tugas ini hidup, maka perlu dirumuskan dan diterapkan dalam konteks pelayanan yang nyata. Walaupun masing-masing punya orientasi yang khusus, namun membentuk jaringan yang “korelatif” dan “holistik.” Apabila salah satu dari tugas ini diabaikan, maka gereja akan kehilangan fungsinya sebagai garam dunia dan terang dunia (Mat.5:13-16) sebagai agen penyalur berita Injil.

Kemudian dalam hubungan dengan pokok bahasan Misi Pekabaran Injil GKI Di Tanah Papua dari sudut pandang diakonia, maka ada dua pertanyaan yang menunjuk pada permasalahan teologis maupun sosialnya adalah: (1) sejauhmana kita memahami hubungan fungsional antara misi, pekabaran Injil dan diakonia? (2) dan bagaimana hubungan ini dikonkritkan? Jika kita tidak mengerti istilah serta relasi pada judul yang merupakan pokok pembicaraan kita, maka harapan untuk merumuskan teologi misi, pekabaran Injil dan diakonia dan aktualisasinya dalam konteks  Gereja Kristen Injili tidak akan fungsional.

2. MISI GEREJA DAN PEKABARAN INJIL

2.1. Misi Gereja

Dalam penggunaannya istilah misi tidak saja dibatasi pada dilingkup agama atau gereja, tetapi juga untuk aktivitas dan tugas-tugas di bidang politik, kemasyarakatan, pemerintahan, dan sebagainya. Apabila dipahami dari sudut Alkitab, maka istilah misi berasal dari kata Latin mitto atau missio yang artinya “kirim atau mengutus,” ini menunjuk tugas seseorang atau kelompok yang di utus keluar. Di dalam RSV[3] Perjanjian Lama, bentuk ini hanya dalam 1 Samuel 15:18,20 sebagai terjemahan dari bahasa Ibrani derek, artinya “jalan, bepergian.” Di dalam Perjanjian Baru, RSV penggunaan misi untuk pelayanan Injil di dalam “perkataan dan perbuatan.” Di dalam Kisah Para Rasul 12:25, misi diterjemakan dari bahasa Yunani diakonia, artinya “pelayanan atau melayani” (Bromiley 1986:384). Selain itu, misi adalah suatu kehidupan yang menyambut maksud Allah untuk manusia dan untuk semua ciptaan (Nico Gara 2000:119). Atau misi dapat dipahami pula sebagai respons terhadap panggilan untuk melakukan amanat Allah.

Dengan demikian, misi dari sudut pandang Alkitab adalah aktivitas Allah: Bapa, Kristus dan Roh Kudus yang ditujukan kepada dunia dan mengikut-sertakan gereja. Pandangan ini tercermin dalam bahasa oikumenis, participation in God’s action in the world’s. Semboyang ini mengungkapkan makna bahwa titik utama bagi iman Kristen adalah tindakan Allah di dalam dunia, dan bahwa inti tugas Kristen adalah mengambil bagian atau ikut-serta dalam tindakan Allah itu (L.A. Hoedemaker 1970:1). Karena itu, gereja yang hadir di dalam dunia adalah tanda misi atau tanda kehadiran Allah yang mengandung konsep missio Dei ke missiones Dei.[4] Itulah sebabnya, misi Kristen atau misi gereja hanyalah dilihat dalam rangka partisipasi dalam misi Allah di dalam sejarah (R.A.D. Siwu:1996:205). Dalam upaya mencari arti baru bermisi masa kini, maka lahir pendekatan teologis yang berwawasan “humaniter-antroposentris” yang memberi tekanan pada humanisasi Allah, yakni Allah yang bekerja di dalam dan lewat setiap kegiatan dan gerakan untuk kemerdekaan martabat manusia, dan yang berwawasan “kosmis” memberi penekanan pada makna kosmis dari Kristus, yakni Allah yang menyatakan diri-Nya, atau kebenaran-Nya, dalam Yesus Kristus tidak hanya ditemukan dalam kekristenan, tetapi juga dalam agama-agama lain, kebudayaan-kebudayaan setempat dan ideologi-ideologi.[5] Jadi pendekatan pertama terkait dengan aspek-aspek sosial dan politik, sedangkan yang kedua terkait dengan aspek-aspek religius dan ideologis. Namun keduanya punya tujuan yang sama, yakni memahami misi dengan wawasan misi Allah di dalam dunia, di dalam sejarah manusia. Akibatnya, misi Allah dilihat sebagai “tindakan Allah” yang berlangsung dalam sejarah sekuler,[6] dalam sejarah setiap masyarakat, kebudayaan dan agama, demi keselamatan seluruh dunia dan umat manusia (h.196-197).

Teolog Asia yang pertama memberi landasan alkitabiah pada konsep missio Dei adalah Shoki Coe. Dalam presentasi “the Niles Memorial Lecture” di hadapan Sidang Raya kelima KKA di Singapura 1973 yang berjudul: Across the Frontiers: Text and Context of Mission, ia mengungkapkan secara sistematis landasan Alkitab yang diyakini bagi konsep missio Dei. Ia mengatakan bahwa semua kegiatan misi bukan hanya diuji oleh Allah yang misioner yang adalah alasan utama misi itu hadir untuk melayani. Atas alasan azasi ini maka misi masa kini haruslah dipahami dalam kerangka hubungan dialektis antara “teks” dan “konteks.” Yang ia maksudkan ialah misi Allah hendaknya dipahami dalam kerangka kehidupan dialektis antara misi Allah yang tertuju pada manusia pada satu pihak, dan peristiwa historis pada lain pihak. Berangkat dari 1 Timotius 2:3-4, Shoki Coe mengatakan: Dalam Yesus Kristus Allah telah mulai suatu misi bersama manusia, untuk manusia, agar manusia selamat dan menemukan pengetahuan yang benar. Yang ia maksudkan ialah, “teks” dari missio Dei adalah kepercayaan bahwa misi Allah tertuju pada dunia. Allah rela datang ke dunia sebagai manusia, bahkan hamba atas dasar kasih (Yoh. 3:16). Karenanya, missio Dei adalah juga missio Christi dalam arti: Allah memberi diri-Nya sendiri bagi dunia lewat Yesus Kristus, berada dalam sejarah manusia. Di dalam dan lewat konteks historis inilah missio Dei dan missio Christi berlangsung. Jadi missio Dei berlangsung bukan di dunia yang abstrak, melainkan di dalam dunia yang nyata (Siwu 197-198). Atas kenyataan ini, maka gereja dipanggil dan diutus untuk melakukan misi yang dipercayakan Allah. Dengan begitu adanya missio ecclesiae (pengutusan oleh gereja). Itulah sebabnya, A.A. van Ruler mengatakan, Misi harus dilihat sebagai proklamasi kerajaan Allah, yakni kerajaan Kristus bagi setiap orang dan di setiap waktu (Yohannes Blauw 1962:116). Menurut Karl Barth, Misi dipahami secara sempit berdasarkan asal katanya berarti “mengutus”, mengutus keluar kepada bangsa-bangsa untuk tujuan memberi kesaksian tentang Injil, tetapi juga pada saat yang sama meliputi pula tugas pelayanan (diakonia) dari umat Kristus secara “holistik” (h.116). Alkitab menjelaskan bahwa proklamasi Injil di antara bangsa-bangsa hanya dimungkinkan oleh: (a) pengorbanan Yesus Krisus di salib (By the voluntary sacrifice of Jesus Christ on the cross). (b) kebangkitan Kristus dari kematian, melaluinya Ia telah menerima kekuasaan atas dunia ini (By the resurrection of Christ from the dead, through which He has received the dominion of the world). (c) melalui pemberian Roh Kudus, memampukan para rasul dan umat Allah untuk bersaksi (Through the gift of the Holy Spirit, which enables the apostles and the community to witness), (h.104-105).

2.2.   Pekabaran Injil (P.I)

2.2.1. Pemahaman tentang Injil

Sidang Raya VII DGI 1971 di Pematang Siantar menegaskan bahwa Injil adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaruan yang tersedia bagi manusia (Mrk.1:15) serta kebebasan, keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan yang dikehendaki Tuhan untuk dunia (Luk.4:18-21); sebagai berita kesukaan, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan manusia (Rm.1:16), (LDKG[7] h.102). Injil merupakan tawaran kepada manusia, bukan tuntutan, suatu penyataan Allah, bukan paksaan agar manusia mengusahakan sesuatu. Kristus itulah Injil. Dialah yang ditawarkan dan dinyatakan Allah kepada kita. Dialah Penyelamat dan Penebus yang memberi harapan yang hidup bagi dunia (Dorothy L. Marx 1974:42). Di pihak lain, Injil merupakan deklarasi Allah kepada manusia mengenai pendamaian. Rasul Paulus menasehati kita agar selalu berkasut “Injil damai sejahtera”, karena itulah komunikasi Allah kepada umat-Nya. Hal ini sudah dikemukakan pemazmur dalam Perjanjian Lama, “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN…kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?” (Mzm.85:9). Menurut  J.L.Ch. Abineno, Injil pertama-tama berarti: kabar baik, kabar gembira, kabar kesukaan. Nas, yang mengungkapkan arti ini ialah Yesaya 52:7, Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” Nas-nas lain yang sama mengungkapkan arti ini, seperti Mazmur 68:12, tentang kabar baik, Mazmur 96:2, tentang kabar keselamatan dan Nahum 1:15, tentang berita damai sejahtera (1981:31). Dalam Perjanjian Baru, Injil sering disebut Injil Yesus Kristus atau Injil Kerajaan Allah. Maksud ungkapan ini ialah, bahwa Yesus Kristus sebagai Raja Mesias bukan saja adalah pembawa  Injil, tetapi juga adalah isi Injil. Jadi Injil adalah “kabar baik” tentang keselamatan yang disediakan Tuhan bagi manusia dan dunia. Di dalamnya manusia dan dunia mengalami perdamaian, kemerdekaan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan. Injil adalah kabar kesukaan tentang pemerintahan Allah oleh kemenangan Yesus Kristus atas dosa dan maut, dan Injil inilah yang harus diberitakan kepada segala bangsa di dunia (Mat.28:19; Kis.1:8; bnd. Mat.24:14).

2.2.2. Pekabaran Injil: Suatu Aktifitas Misi

Dewasa ini tugas pekabaran Injil sering digugat dan dipersoalkan dalam dunia teologi. Banyak orang merasa kabur tentang makna pekabaran Injil jaman sekarang. Ada yang berpendapat bahwa pekabaran Injil tidak sesuai dengan iklim modernisasi masa kini. Tapi kita harus membedakan antara tindakan pemberitaan sebagai tanggung jawab gereja sampai pada akhir zaman, dan metode-metode pemberitaan. Perjanjian Baru memakai dua istilah untuk pemberitaan Injil, (1) kerygma atau pemberitaan dengan wewenang, dengan kekuasaan-otoritas. (2), euanggelion, kabar baik (Marx, h.40). Dalam amanat-Nya yang terakhir kepada murid-murid-Nya (Mat.28:19-20), Kristus tidak memakai kedua istilah ini, melainkan “jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Sedangkan Markus 16:15 memakai baik kerygma dan euanggelion. Tetapi bagaimana pun juga, pelaksanaan amanat Kristus harus melalui proses pemberitaan. Secara alkitabiah, berita Injil merupakan seruan Allah kepada seluruh umat manusia supaya mereka bersedia didamaikan dengan Allah (2Kor.5:20). Rasul Paulus begitu merasakan tanggung jawab mengabarkan Injil sehingga ia menggambarkannya sebagai “utang” yang harus dilunasi terhadap semua bangsa dan golongan (Rm.1:14). “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (Kor.9:16). Dan pekabaran Injil mustahil berhasil tanpa pekerjaan Roh Kudus (Kis.1:8). Menurut petinggi gereja Anglikan[8] yang dikutip John Stott, pekabaran Injil berarti: dengan kata dan perbuatan memperkenalkan kasih Kristus yang disalibkan dan bangkit dalam kuasa Roh Kudus, sehingga orang bertobat, percaya, dan menerima Kristus sebagai Juruselamat dan dengan taat melayani Dia sebagai Tuhan dalam persekutuan dengan gereja-Nya (2008:33).

Gereja Kristen Injil pada Sidang Sinode XIII di Fak-Fak tahun 1996 telah merumuskan pendirian teologisnya bahwa ia terpanggil untuk terus memberitakan Injil dan membina warganya sesuai amanat agung Yesus Kristus (Mat.28:19-20). Melalui panggilan ini seluruh anggotanya terlibat berperan-serta untuk melaksanakan pelayanan dan kesaksian gereja sebagai “garam” dan “terang” dunia di setiap situasi baik di dalam gereja maupun di tengah-tengah masyarakat. Dengan ini, gereja harus dapat menciptakan peluang-peluang baru yang komprehensif melalui program-program yang strategis, terarah dan berkesinambungan mencakup kebutuhan manusia secara utuh dan menyeluruh (Bp Am Sinode 1996:1-2). Dari dokumen-dokumen Konferensi Pekabaran Injil sedunia di San Antonio (Texas-Amerika Serikat) Juni 1989, disadari bahwa polarisasi antara kaum evangelical dan kaum ekumenikal adalah hasil cara berpikir Barat, yang membedakan dan kemudian memisahkan antara pelayanan “rohani” dan “sosial.” Pemisahan ini karena di banyak negara Barat yang makmur (walaupun ada juga golongan yang miskin dan tertindas), kesaksian yang diperlukan. Sedangkan dalam pandangan Barat “Dunia Ketiga”[9] terutama membutuhkan pelayanan sosial (2011:165). Selain pekabaran Injil sasarannya kepada manusia sebagai subyek maupun obyek, Injil harus diberitakan kepada segala mahluk (Mrk.16:15). Tugas ini berhubungan dengan pertanggungjawaban pemeliharaan “keutuhan ciptaan” sesuai mandat Allah (bnd. Kej.1:1-31; Mzm.24:1-2).

2.3. Hubungan Teologis Misi dan Pekabaran Injil

Bagian ini merupakan suatu penegasan konkrit mengenai hubungan antara konsep misi dan pekabaran Injil. Secara kualitatif misi adalah dasar bagi pekabaran Injil dan pekabaran Injil adalah reaksi atau respons terhadap panggilan misi. Dari perspektif teologis, yang merupakan sumber, asal-usul, dan tujuan misi adalah Allah. Kemudian, yang merupakan berita dan teladan dalam misi pekabaran Injil adalah Yesus Kristus. Sedangkan yang pemberi kuasa yang memampukan gereja untuk melakukan misi dan pekabaran Injil adalah Roh Kudus. Jadi dasar teologi misi dan pekabaran Injil bersifat “Trinitaris.” Lesslie Newbegin dalam The Open Secret: An Introduction to the Theology of Mission seperti dikutip Coralie F. Joyce menjelaskan arti missio Dei dengan menyatakan bahwa misi adalah pekerjaan Allah Tritunggal. Menurutnya, pengertian misi Sang Trinitas harus dilaksanakan melalui pemakluman kerajaan Bapa, yang berarti misi sebagai: iman dinyatakan; membagi hidup Anak: yang berarti misi sebagai kasih yang dilaksanakan; bersaksi bersama-sama Roh: yang berarti misi sebagai pengharapan yang dinyatakan. Pola ini nampak dalam Injil Yohanes dengan temanya mengenai utusan. Allah mengutus Anak-Nya; Bapa dan Anak mengutus Roh-Nya; dan Sang Trinitas mengutus jemaat-Nya (2001:9). Oleh karena itu, tindakan misi dan pekabaran Injil bukan lahir dari kemauan manusia, tetapi karena manusia terpanggil ikut-serta dalam misi Allah-missio Dei.

3. DIAKONIA

3.1. Pengertian Istilah

Istilah diakoniabanyak digunakan, namun persoalannya tidak sesederhana seperti mengungkapkannya dalam kata-kata. A. Noordegraaf mengatakan, penilaian ulang atas diakonia disebabkan oleh berbagai macam hal, di antaranya: (a) perhatian yang makin bertambah untuk tugas misioner dan diakonia gereja di dunia (bersaksi melalui pelayanan). (b) perkembangan dalam misi dunia dan timbulnya gerakan oikumene. (c) pergeseran di bidang sosial-ekonomi dan perubahan dalam tata susunan masyarakat. (d) perkembangan yang mengarah kepada suatu kehidupan bersama yang lebih luas secara global (2004:1). Jadi penilaian dan perumusan ulang konsep diakonia sebagai salah satu fungsi pelayanan gereja tak dapat dipisahkan dari tugas kesaksian (marturia) atau pemberitaan Injil.

Secara harfiah kata “diakonia” berarti “memberi pertolongan atau pelayanan.” Kata ini berasal dari kata Yunani diakonia (pelayanan), diakonein (melayani), diakonos (pelayan), (h.2). Diakonein (secara harfiah: melayani meja) di dunia Yunani sebagai pekerjaan rendah, pekerjaan budak, dan orang merdeka pasti tidak mau melakukannya. Di negeri Yahudi melayani tidak dilihat sebagai sesuatu yang rendah. Hukum Lewi, Imamat 19:18 mencakup kesediaan mengasihi dan saling melayani. Dalam Perjanjian Baru ditemukan beberapa ungkapan dengan arti harfiah: “melayani di meja”, baik dalam arti mempersiapkan jamuan makan (lih.Kis.6:2) maupun dalam arti pekerjaan pelayan meja, yang siap melayani para tamu (Luk.12:37; 17:8; Yoh.2:5,9). Kelompok kata Yunani diakonia (service), diakonos (server), dan diakoneo (serve), dalam konteksnya termasuk, yakni “melayani meja” (table service) dan “jabatan pelayanan kultis” (cultic office), yang oleh kekristenan mula-mula menggambarkan berbagai bentuk pelayanan (Mary Rose D’angelo 1996:66). Demikian pula, diakonia adalah istilah Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa kedudukan serta perutusan dalam gereja adalah demi pelayanan kepada jemaat (Kis.1:17, 25; 21:19; Rm.11:13; 1 Tim.1:12), (Gerald O’Collins dan Edward G. Farrugia 1996:53).

3.2. Orientasi Diakonia

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka orientasi diakonia tidak terbatas atau dibatasi hanya pada satu segi kehidupan bergereja (berjemaat). Di dalam diakonia terungkap juga arti melayani sesama secara umum, yaitu sesama yang lebih rendah kedudukannya (lih. Luk.22:26,27). Mengenai para wanita yang mengikuti Yesus dikatakan mereka melayani-Nya dengan harta benda (Luk.8:3), dan Matius 25:31-46 melukiskan pelayanan sebagai memberi makan dan minum, memberi pakaian dan tumpangan, perawatan dan kunjungan orang sakit serta para tahanan yang dilihat sebagai pelayanan bagi Tuhan Allah (Noordegraaf, h.3-4). Dalam LDKG (Bab II, tentang: koinonia) dirumuskan: Yang dimaksud dengan pelayanan diakonia adalah pelayanan dan keterlibatan gereja yang ditimbulkan dari panggilan dan tugasnya untuk memperhatikan, membantu, memerdekakan dan melepaskan setiap orang, yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka dan keluarga mereka masing-masing pada masa kini dan masa depan dengan selayaknya. Mereka ini adalah orang-orang yang miskin,[10] sakit, terasing, lemah dan terlantar, bodoh, korban bencana alam dan peperangan, terkebelakang, terkena perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang, menjadi korban ketiadaan dan ketidakpastian hukum (lih. Kel.21:23-33; Yes.58:6-7; Zak.7:9-10; Mat.9:35-38; 25:31-46; Luk.4:16-21; Kis.6:1-7; Yak.1:26-27; 1Tim.5:3-16). Pelayanan diakonia ini berpola pada Yesus sebagai Pelayan yang memberi nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mrk.10:45), (1990:100). Secara etis-teologis diakonia mencakup semua pekerjaan pelayanan jemaat: pemberitaan, kegiatan melengkapi, pengawasan, pelayanan belas kasihan, dan sebagainya.

Jadi orientasi diakonia mencakup arti yang luas, yaitu semua pekerjaan yang dilakukan dalam pelayanan bagi Kristus di jemaat, untuk membangun dan memperluas jemaat, oleh mereka yang dipanggil sebagai pejabat dan anggota jemaat biasa. Dalam diakonia secara luas terdapat tempat untuk diakonia dalam arti khusus, yaitu memberi bantuan bagi orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan. Kita tidak boleh menenggelamkan kekhasan pekerjaan ini dalam suatu pengertian umum “pelayanan kasih” dan kita tidak boleh melepaskan diakonia jemaat Kristus dari pelayanan kesaksian, penggembalaan dan doa syafaat. Diakonia sebagai pelayanan terhadap yang miskin dan berkekurangan berkaitan dengan pelayanan “pemberitaan Firman.” (Noordegraaf, h.5). Dalam Perjanjian Baru istilah diakonia dipakai tidak hanya dalam konteks pelayanan meja, tetapi dalam konteks yang beraneka ragam. Misalnya: 2 Korintus 5:18-19 diakonia dipakai dalam konteks “pendamaian”, dihubungkan dengan  “iman”, “kasih”, “ketekunan” dalam Wahyu 2:19, dipakai pada konteks pengertian tugas seperti dalam 2Timotius 4:5,11; Kolose 4:17, (Jakub Santoja 1988:14). Dalam perkembangannya kata diakonia atau pelayanan dikaitkan dengan pelayanan meja dan pelayanan firman. Jadi diakonia dalam Perjanjian Baru lebih luas artinya dari diakonia yang selama ini kita pahami. Dalam Kisah Para Rasul 6:1,2,4 diakonia terdiri dari “diakonia firman” atau “pelayanan firman”, dan “diakonia meja” atau “pelayanan meja” yang lazim dipahami sebagai “pelayanan sosial gerejawi.” Di dalam gereja atau jemaat berulangkali digunakan istilah “pelayanan firman”, tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa kata “pelayanan” itu berasal dari kata “diakonia.” Seolah-olah kata diakonia hanya tepat dikenakan pada kegiatan pelayanan kesejahteraan. Sebenarnya, kata “diakonia” dipakai untuk pelayanan firman dan pelayanan kesejahteraan, pelayanan meja. (h.17). Dengan demikian, orientasi tugas diakonia gereja yang bersumber pada diakonia atau pelayanan Yesus Kristus bersifat holistik, meliputi segi jasmani maupun rohani (Mat.20:28; Mrk.10:45; Yoh.10:10). J.C. Sikkel seperti dikutip A. Noordegraaf mengatakan: “Tanpa gedung, gereja dapat hidup. Tanpa diakonia gereja mati.” (h.177). Seperti halnya pelayanan firman bersifat proklamasi spiritual, maka pelayanan kesejahteraan adalah proklamasi firman secara konkrit.

5. MISI PEKABARAN INJIL DARI SUDUT PANDANG DIAKONIA

Misi Allah telah menjadi titik-tolak bagi gereja untuk memulai penyelidikan dan tindakan untuk mewujudkan apa yang dilakukan Allah: Bapa melalui hidup dan karya Yesus Kristus. Inilah fakta Kristus (the fact of Christ)[11] yang secara mutlak menjadi titik-tolak bagi pemikiran, perkataan dan tindakan gereja di masa kini. Dengan demikian, berbicara tentang misi dalam konteks gereja, tidak dapat dipisahkan dari pemanggilan seseorang atau kelompok yang diutus, dikirim untuk memberitakan fakta Kristus itu melalui perkataan dan perbuatan tentang apa yang dihehendaki Allah dan bukan yang dikehendaki orang atau kelompok yang diutus. Jadi misi harus merupakan perwujudan komitmen yang dalam terhadap kebenaran suatu pesan khusus, yang ditafsirkan sebagai kabar baik bagi semua orang yang mempengaruhi dan membaharui hidup manusia secara nyata (J. Andrew Kirk 2012:22). Karena misi itu berisi maksud Allah bagi manusia dan seluruh ciptaan. Kemudian, agar supaya maksud Allah itu sungguh-sungguh konkrit, maka Ia melibatkan manusia sebagai partner perjanjian-Nya. Misi inilah yang menjadi dasar untuk segala kegiatan pekabaran Injil (H. Venema 2006:29).

Untuk menegaskan hubungan antara misi pekabaran Injil dan diakonia, maka eksistensi Injil tidak hanya dipahami sebagai suatu berita yang berisi tawaran mengenai keselamatan atau pembaruan hidup yang bersifat keakanan, tetapi harus diresponi sebagai tindakan konkrit yang dilakukan Allah dalam Yesus Kristus dan berdampak pada pemulihan hidup manusia baik jasmani maupun rohani, kini dan di sini atau bersifat kekinian. Jika demikian, maka misi pekabaran Injil yang dilakukan sudah seharusnya menghadirkan kebebasan, keadilan, perdamaian, kebenaran dan kesejahteraan holistik (wholeness) bagi manusia. Jadi misi yang Allah tidak hanya mengajarkan teori tentang diri-Nya, tetapi Ia memberi teladan secara nyata lewat hidup dan karya Anak-Nya. Dengan demikian, tindakan Allah dalam Yesus Kristus harus menjadi kriteria untuk mengukur efektivitas pelaksanaan misi pekabaran Injil, serta perwujudannya dalam diakonia. Perspektif ini meletakkan dasar historis dan teologis bahwa gereja yang hidup adalah gereja yang memberitakan Injil, dan membaharui hidup manusia melalui pelayanan yang konkrit berdasarkan nilai-nilai Injil. Gereja yang hidup adalah gereja yang konsisten dan berkesinambungan menjawab kebutuhan hidup manusia, jasmani maupun rohani. Itu berarti implementasi dari misi pekabaran Injil dan diakonia tidak memposisikan gereja menjadi pemantau atau penonton yang pasif ditengah dinamika zaman, tetapi mendorong gereja agar memiliki kesadaran profetis sehingga berperan sebagai driving force yang terlibat dan menghidupkan. Kenyataan ini hendak menegaskan bahwa misi pekabaran Injil merupakan prinsip kebenaran yang diberitakan secara verbal (dengan kata-kata), sedangkan diakonia adalah prinsip tindakan yang lahir dari Injil. Dengan begitu, misi pekabaran Injil dan diakonia merupakan dua sisi dari satu mata uang. Ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif misi pemberitaan Injil dan diakonia adalah dua kenyataan, tetapi secara kualitatif punya hubungan timbal-balik yang utuh. Injil sungguh-sungguh akan menjadi berita dan kuasa yang menghidupkan, jika di isi dan ditanamkan dalam wadah diakonia. Jadi misi pekabaran Injil dari sudut pandang diakonia, mengharuskan gereja menerjemakan Injil dalam praksis.[12] Karena pemahaman diakonia gereja di bangun atas dasar hidup dan karya Yesus di dalam dunia, maka acuan teologis untuk memahami hubungan misi pekabaran Injil dan diakonia, didasarkan pada beberapa contoh: Yesus memberi makan lima ribu orang (Mat.14:13-21), Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta (Mat.8:1-4), orang lumpuh disembuhkan (Mat.9:1-8), Yesus Gembala yang baik, memberi kelimpahan hidup bagi domba-domba-Nya (Yoh.10:1-21; Mzm.23:1-6), Yesus memanggil kedua belas rasul (Mat.10:1-4) dan mengutus mereka (5-15). Dan banyak perempuan-perempuan yang melayani Yesus (Luk.8:1-3): Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota, desa ke desa untuk memberitakan Injil (ay.1), Ia menyembuhkan beberapa perempuan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit,….(ay.2/3), dan perempuan-perempuan ini melayani dengan kekayaan mereka (ay.3). Kesaksian-kesaksian ini meneguhkan bahwa diakonia dari perspektif Injil, tidak hanya berhubungan dengan satu aspek, yakni jasmani saja atau rohani saja dari kebutuhan hidup manusia. Tetapi mengikuti Yesus karena Injil, melayani dengan harta benda, mewujudkan perdamaian, memelihara iman dan kasih, bertekun adalah bentuk nilai-nilai Injil dari sudut pandang diakonia. Jadi apa yang dilakukan Yesus merupakan diakonia yang sesungguhnya sebagai proses dari penerapan “kabar baik.” Tetapi juga diakonia yang dilakukan gereja terhadap Tuhan, mempunyai konsekwensi terhadap sesama seperti kesaksian Matius 25:35-36, ketika Aku lapar kamu memberi Aku maka; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Jadi dari perspektif berita Injil, diakonia yang dilakukan gereja tidak identik dengan suatu gerakan sosial, tetapi merupakan tindakan penerapan kasih Allah untuk merealisasikan perdamaian, kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan sebagai tanda kehadiran “Kerajaan Allah.”[13] Ada empat faktor yang terkandung dalam tema misi pekabaran Injil dari sudut pandangan diakonia, (1) pemberitaan Injil atau Firman Allah hanya bermakna jika diaktualisasikan dalam perspektif diakonia. (2) diakonia harus dipahami sebagai upaya penerapan Injil yang bertujuan menciptakan kesejahteraan bagi manusia, baik jasmani maupun rohani. (3) misi pekabaran Injil dari sudut diakonia membutuhkan struktur penyelenggaraan dan pelaksana yang berwibawa. Inilah yang melahirkan adanya sistem kultis atau jabatan dalam gereja untuk melakukan diakonia. (4) dari sudut diakonia, tujuan misi pekabaran Injil adalah menjadikan segala bangsa menjadi murid Yesus (bukan hanya percaya, tetapi siap berkorban).

Jika Gereja Kristen Injil di Tanah Papua ingin mewujudkan diakonia yang mandiri dan misioner berdasarkan misi dan pekabaran Injil, maka harus memenuhi empat syarat: (1) GKI harus memahami dirinya sendiri (teologi tentang gereja). (2) GKI harus sanggup mengorganisasi dirinya sendiri (penguatan struktur gereja: jemaat, klasis dan sinode). (3) GKI harus mengungkapkan dirinya sendiri (peran gereja), dan (4) GKI harus menjadi dirinya sendiri (kehidupan bergereja, pengembangan potensi dalam konsep “rumah besar”).

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun,

asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku

untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

(Kisah Para Rasul 20:24)

 

 



[1]Materi yang disampaikan pada Konferensi Pekabaran Injil ke-II GKI Di Tanah Papua, 1-3Februari 2013 di Sorong – Papua Barat.

[2]Dosen bidang studi Teologia Sistematika-A (Dogmatika Kristen), pada Sekolah Tinggi Teologia GKI “I.S. Kijne” Abepura-Jayapura.

[3] Rivised Standard Version

[4]Menurut J. Aagaard, seperti dikutip K.Ph. Erari mengatakan: Konsep missio Dei hanya didasarkan pada keselamatan melalui gereja dan aktivitas pekabaran Injil. Sedangkan missiones Dei diartikan sebagai fakta dari dimensi kehadiran Allah di dalam Roh Kudus, ditengah-tengah umat manusia. Missiones Dei menekankan tindakan dan partisipasi manusia di dalam sejarah (1999:68).

[5]Ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; cara berpikir seseorang atau suatu golongan; paham, teori, dan tujuan yang berpadu merupakan satu program sosial politik (Suharso dan Ana Retnoningsih 2009:273).

[6] Menurut  L.A. Hoedemaker, sekuler/sekularisasi suatu istilah yang sulit untuk didefinisikan dengan tepat – tidak berarti bahwa orang-orang meninggalkan agama, melainkan bahwa perkembangan masyarakat, dan cara pemikiran yang berlaku dalam perkembangan masyarakat dari dirinya sendiri tidak lagi memerlukan “berpikir dalam struktur religius.” Berpikir dalam struktur religius berarti bahwa kenyataan dunia dihubungkan dengan suatu kuasa yang tidak identik dengan kenyataan itu, yaitu dengan suatu titik asal dan titik arah yang “transenden.” Struktur religius bukan hanya menunjuk pada cara pemikiran atau interpretasi tentang dunia. Struktur religius selalu mengambil bentuk dalam kenyataan-kenyataan sosial: suatu gereja atau lembaga agama yang menuntut tempat dan pengaruh tertentu ditengah masyarakat – entah melalui pekabaran Injil atau melalui partisipasi tertentu dalam pembangunan struktur-struktur sosial (1970:22).

[7] LDKG=Lima Dokumen Keesaan Gereja di Indonesia

[8]Dikemukakan dalam: The Truth Shall Make You Free: The Lambeth Conference 1988 (Anglikan Consultative Council, 1988)

[9]Pengertian Dunia Ketiga (negara sedang berkembang) adalah suatu sebutan global untuk semua negara yang ada dipinggiran Dunia Kesatu (Eropa Barat, Amerika Serikat) dan negara-negara di Eropa Timur (Dunia Kedua).

[10]Miskin bukan hanya berarti soal ekonomi. Ada orang yang secara ekonomi baik atau kaya, tetapi diganggu oleh masalah penggunaan narkoba, minuman keras, perceraian, kurang pengetahuan, tidak punya ketrampilan, dan sebagainya.

[11]Yang dimaksud adalah seluruh hidup dan karya pelayanan Yesus Kristus: Kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikkan, dan kedatangan-Nya.

[12] Praksis, yaitu konteks hidup, pergumulan, dan perjuangan yang nyata dari manusia.

[13] Kerajaan Allah berarti: pertama, menunjuk pada kekuasaan Allah yang berlaku atas seluruh ciptaan-Nya secara absolut. Dan kedua, menunjuk pada hubungan khusus antara Allah dan umat-Nya sepanjang sejarah.


Artikel ini ditulis pada : 21 Januari 2014 | Oleh : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Injil Di Hari :

Sumber Menambahkan Alkitab Di Blog - BaseCamp Setiakawan Follow us: @valenthuba on Twitter | vhuba on Facebook

Pengujung :

Link Internasional :

Twitter RESMI :

Galeri Foto

Kumpulan Foto Kegiatan GKI Di Tanah Papua

Galeri Video

Kumpulan Video Kegiatan GKI Di Tanah Papua