Selamat Datang di Website Resmi Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua. Alamat:Jln.Argapura 9,Kotak Pos 1160,Jayapura 99222,Papua, Fax: (0967)533192 informasi mail : wirewit.gkiditanahpapua@gmail.com / hp : (+62) 0821-9930-1804

TEOLOGI DALAM KONTEKS RUMAH BESAR GKI DI TANAH PAPUA

TEOLOGI DALAM KONTEKS RUMAH BESAR GKI DI TANAH PAPUA

 (Disampaikan dalam Konsultasi II Teologi GKI Di Tanah Papua Tahun 2013)

Oleh: Pdt. Alberth Yoku, S.Th

( Ketua BP Am Sinode GKI Di Tanah Papua )

Pertama-tama saya sampaikan bahwa sebagai ketua sinode GKI Di Tanah Papua, penyampaian saya tidak bersifat teoritis melainkan praktis teologis.

Pada dasarnya, pikiran tentang Rumah Besar GKI Di Tanah Papua, tidak terlepas dari Teologi Kerajaan Allah.  Saya memahami bahwa           Kerajaan Allah itu seumpama sebuah rumah besar, yang di sana duduklah Allah sebagai Raja, dan di sana di tata sebuah sistim pekerjaan yang teratur; dan Raja itu memiliki sekian banyak orang, dan melakukan tugas-tugas yang diatur dengan baik, sehingga pekerjaan di dalam Kerajaan itu berjalan teratur dan baik.

Karena itu, teologi Kerajaan Allah  yang sudah didiskusikan dalam Konsultasi I Teologi GKI Di Tanah Papua tahun 1980, merupakan pandangan mendasar bagi GKI Di Tanah Papua. Pandangan ini bersifat eskatologis, parusia dan presentis (masa sekarang ini). Pandangan teologi Kerajaan Allah GKI Di Tanah Papua, mempersiapkan seluruh warga gereja dan para pelayan (pejabat fungsi dan struktur) di dalam gereja ini, mengarahkan warga GKI Di Tanah Papua, untuk menghidupkan suasana Kerajaan Allah pada saat ini, dan berarak-arakan dalam suasana sukacita itu, menuju pada masa depan, yaitu terkumpul bersama dalam Kerajaan Allah di Sorga.

Pandangan tentang teologi Kerajaan Allah oleh GKI Di Tanah Papua adalah pandangan yang benar. Teo (Allah) dan logos (firman) yang dipahami secara prakti sebagai pengetahuan tentang Tuhan. Pandangan teologi Kerajaan Allah oleh GKI Di Tanah Papua itu menuntut semua warga gereja dan seluruh pekerja Tuhan untuk punya komitmen berjalan bersama-sama menuju ke arah Kerajaan Allah  yang sempurnah.

Ada beberapa catatan saya yang hendak dibagikan kepada saudara-saudara sekalian, pada kesempatan ini, sehubungan dengan bicara tentang Kerajaan Allah.

 

PANDANGAN ALKITABIAH

  1. 1.                  Konsep Injil Yohanes

Konsep tentang rumah dalam Alkitab dapat dilihat pada Yohanes 14:1-14. Dalam bagian ini mencatat diskusi hangat antara Yesus dengan keduabelas muridNya, perihal Rumah Bapa. Di awal diskusi itu (ayat1-3), Yesus menegaskan kepada para muridNya: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaku. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Tomas mewakili saudara-saudaranya bertanya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi…” Yesus menjawabnya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Memahami konsep Yesus tentang rumah Bapa ini, saya berkesimpulan bahwa segala bentuk, kegelisaan dan pertanyaan yang digumuli 12 murid itu, dijawab tepat oleh Yesus bahwa mereka semua (Yesus dan para muridNya) akan diam bersama-sama dalam sebuah rumah, yaitu rumah Bapa (sorga). Konsep Yesus tentang rumah Bapa pada prinsipnya bersifat futur, dan benar-benar akan terjadi di masa yang akan datang. Maka, teologi Kerajaan Allah yang bersifat eskaton itu, harus kita menyusun dan membuatnya menjadi kongkrit pada kesempatan ini, dan menimplementasikannya dalam segala karya kita dalam gereja ini.

  1. 2.                  Konsep Injil Lukas

Dalam Injil Lukas 19:45-48, Yesus juga berbicara tentang Bait Allah sebagai bangunan. Yesus berkata: “RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (ayt. 46). Konsep rumah Bapa yang dikemukakan Yesus pada waktu dan kesempatan berbeda di atas, pada prinsipnya memiliki dua pengertian mendalam. Pada Yohanes 14:1-3 merupakan konsep rumah Bapa yang bersifat ilahi dan berlaku pada masa yang akan datang (rumah Bapa futuris). Sedangkan Lukas 19:45-48 adalah konsep yang bersifat fisik, kekinian (rumah Bapa presentis).

Perlu disadari bersama kalau dua konsep Yesus  inilah yang sedang dipakai dalam gereja ini.  Sehingga pandangan tentang rumah yang sedang dipakai dalam GKI Di Tanah Papua, mengarahkan kita kepada dua arah. Pertama, umat dan para pekerja gereja berjalan bersama sambil percaya menuju rumah Bapa yang akan datang; dan kedua, kita hidup di dalam rumah Bapa (fisik) yang sekarang ini, mengajak seluruh umat dan pekerja untuk menatanya sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni dalam kebersamaan.

Setelah berjumpa dengan 11.750 penatua dan syamas di tujuh klasis GKI Di Tanah Papua, pada suatu kesempatan saya pernah bertanya kepada 3.700 penatua dan syamas di Klasis GKI Sorong: “Jemaat manakah di antara saudara-saudara, yang bilamana Yesus datang menjumpai kamu sambil tersenyum dan bangga, saat melihat gerejamu?” Pada kesempatan itu tidak ada seorang pun penatua dan syamas yang berani berkomentar. Itu berarti apa yang digambarkan dalam Lukas 19:45-48 di atas, sedang terjadi sesuatu yang aneh di dalam Bait Allah (gereja) untuk kita di saat ini.  Rumah doa sudah menjadi sarang penyamun. Ini merupakan kenyataan yang sedang terjadi dalam gereja kita di saat ini.

Membangun dan menata kembali rumah besar GKI Di Tanah Papua, bukanlah teologia yang tak memiliki dasar, melainkan memiliki dasar yang jelas yang bertolak dari dua pandangan Alkitabiah di atas. Bekerja dengan baik dalam rumah ini maka kita akan masuk dalam rumah besar yang ilahi itu. Sebaliknya bila kita tidak mengatur rumah besar ini dengan baik, maka tentu saja kemungkinan kecil kita tidak bakalan masuk dalam rumah ilahi itu.

  1. 3.                  Konsep Rasul Paulus

Menurut Rasul Paulus dalam 1 Korintus 3:16, Rumah Bapa itu bersifat antoprosentis. Rumah itu adalah manusia. Paulus menegaskan bahwa: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (lih. 6:19). Jadi, konsep rumah Bapa tidak saja pada pengertian Rumah Allah yang bersifat futuris dan presentis, tetapi pula bersifat antoprosentris. Dengan kata lain, ruma Allah bukan saja berbicara tentang Sorga dan bukan pula tentang bangunan gereja secara fisik, tetapi juga memiliki pengertian pada diri manusia sendiri (bnd. 2 Kor 5:1-4). Bila dicermati konsep Paulus ini dapatlah dipahami bahwa sebenarnya ia berbicara juga tentang rumah yang bersifat kekinian dan keakanan. Inilah konsep teologi rumah oleh Rasul Paulus.

Memahami tentang teologi rumah, saya menemukan sebanyak 306 kali Alkitab PB menyebutkan tentang kata rumah. Sebanyak  294 kali kata rumah itu ditulis dengan menggunakan huruf kecil, sedangkan 12 kali dengan huruf besar. Sedangkan untuk kitab Perjanjian Lama, belum saya teliti; dan karena itu saya berharap dalam Konsultasi ini kita dapat menemukannya.

PANDANGAN TOKOH GEREJA GKI

            Konsep rumah pun dapat kita jumpai pada beberapa tokoh GKI Di Tanah Papua. Di bawah ini saya hanya menyebutkan dua tokoh saja, walaupun sebenarnya kita tahu ada begitu banyak tokoh terkemuka GKI Di Tanah Papua, yang juga memiliki konsep tentang rumah itu. Di antara dua tokoh yang saya maksudkan ialah Carl W. Ottouw dan I.S. Kijne.

  1. 1.                  Konsep Carl W. Ottouw

Konsep rumah oleh Carl W. Ottouw dapat kita temui pada saat-saat terakhir kehidupan sang tokoh itu, yaitu di atas tempat tidurnya, sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 9 November 1862, Ottow berkata dalam doanya: “Ya Tuhan, semoga nanti di Surga, saya bertemu dengan seorang Papua.” Sorga, menurut sang Rasul Papua ini adalah sebuah rumah, yaitu Rumah Bapa. Mencermati perkataan Ottow di atas, maka dapat disimpulkan oleh kita bahwa sebenarnya Rumah Bapa itu, bukanlah sebuah tempat yang jauh dari kehidupan manusia, melainkan dekat dengan manusia.

  1. 2.                  Konsep I.S. Kijne

Konsep tentang rumah pun dapat pula ditemui dalam dokumen nyanyian-nyanyian gereja. Khususnya dalam syair-syair Nyanyian Mazmur dan Rohani, karya Ds. I.S. Kijne, ada sekian banyak lagu yang mencantumkan hal Rumah Bapa (sorga). Misalnya, kita menemukan pada Mazmur 23:3 “… Kekal ku diam dalam rumah Hua.” Mazmur 84 “… di abang pintu rumahMu,” Mazmur 99:1 “Sion mulia itu rumahNya.., dls. Sedangkan dalam Nyanyian Rohani bisa ditemui pada lagu nomor 30:1 “Slamat, slamat datang, Yesus Tuhanku, yang turun dari sorga yang rumahMu.”, 97:1 “Tuhan Allah hadir dalam rumah ini,”, 110:4 “… Yang Bangun dalam rumahMu, baharu hidupnya”, 192:3 “… Berkesudahan di rumahKu” dan 193:4 “… Kau sambut, Bapa, di rumah sorga.”

Semua syair lagu karya sang tokoh pendidikan ini memberikan gambaran terperinci kepada kita, kalau Kijne memahami rumah dalam dua sisi, yaitu menujuk pada Rumah Bapa (sorga) dan Persekutuan orang-orang percaya (gereja).

 

PANDANGAN GKI DI TANAH PAPUA

  1. 1.                  Jemaat adalah sebuah keluarga

GKI Di Tanah Papua memahami bahwa Jemaat adalah sebuah keluarga yang terdiri atas kepala-kepala keluarga dan anggota-anggota keluarganya; dan keluarga itu menghuni sebuah rumah. Seluruh pergumulan tentang hidup dilangsungkan di dalam sebuah rumah, sampai pada akhir batas kehidupan. Rumah menjadi titik sentral, pusat kehidupan. Suami, isteri dan anak-anak, semuanya tinggal dalam rumah. Karena itu, rumah itu selalu berhubungan dengan kehidupan jasmani dan rohani.

GKI Di Tanah Papua memahami bahwa hal kerajaan Allah yang transeden itu mampu diwujudnyatakan secara imanen dengan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di dalam rumah itu. Rasul Paulus menulis konsep tentang keluarga dan jemaat, yang penghuninya ialah suami, isteri dan anak-anak (Efesus 5:22-35). Setiap keluarga adalah jemaat dan Jemaat adalah sebuah keluarga besar. Dari keluarga, setiap anggota keluarga pergi mencari hal rohani di rumah ibadah, sebagai wadah pertemuan jemaat. Baik keluarga dan jemaat, dalam kehidupan sesehari di rumah dan di rumah ibadah dalam jemaat, ia menatap masa depan ke rumah Tuhan di sorga.

  1. 2.                  GKI Di Tanah Papua adalah sebuah rumah keluarga besar

GKI Di Tanah Papua yang terdiri sari 1 sinode, 45 klasis, 12 bakal klasis, dan 2.100 jemaat di seluruh tanah Papua, adalah satu keluarga besar yang memiliki sejumlah besar kepala keluarganya. Sampai saat ini kita belum mengetahui secara pasti berapa jumlah umat kita; berapa jumlah anak-anak Sekolah Minggu (PAR), berapa orang PAM, berapa orang PW dan berapa orang PKB dalam rumah besar ini. Rumah besar GKI Di Tanah Papua yang terbagi dalam kamar-kamar klasis, kamar-kamar jemaat, harus kembali diinfetarisir dengan baik, demi mengetahui totalitas jumlah umat kita secara pasti. Untuk mengetahui semua data itu dengan baik, sebagai pekerja dalam rumah besar ini, kita harus menjadi orang tua yang baik; bapak dan ibu yang baik, yang mengenal nama dari anak-anaknya, mengenal betul akan susah dan senang dari anak-anak itu.

Dalam rumah besar ini, kita hanya mengira-ngira jumlah penghuni saja, tetapi tidak memiliki kepastian jumlah dan kondisinya yang akurat. Kita kurang mengetahui bahwa dalam rumah besar ini ada terdapat penghuni yang baik dan pula yang tidak jelas statusnya; ada bapak dan ibu yang baik, tetapi juga yang kurang baik; ada pula pemimpin yang baik dan juga yang tidak jelas pekerjaannya.

Nah, dengan tidak diketahuinya jumlah penghuni dalam rumah besar ini, maka dapat diprediksi kalau kita, para pekerja gereja ini, tidak sanggup memberi makan dan minum, istirahat yang nyaman kepada seluruh penghuni rumah besar itu. Kita tidak sanggup menyediakan fasilitas yang cukup, kesiapan makan, minum, pakai dan tidur bagi seluruh umat kita dalam gereja ini. Para pekerja rumah besar ini perlu menjadikan dirinya sebagai “bapa dan mama rohani” bagi seluruh anak-anak gembalaannya, umatnya, dengan baik, sehingga mereka tetap kenyang, sehat, nyaman dan damai tinggal dalam rumah besar ini (bnd. Matius 7:9-10).  Inilah sebuah langkah menata dan membangun kembali rumah besar GKI Di Tanah Papua.

  1. 3.                  Jabatan dalam rumah GKI Di Tanah Papua

Di rumah GKI Di Tanah Papua ini ada begitu banyak pemimpin, baik yang berjabatan fungsional dan struktural.

  1. a.                  Jabatan fungsional

Jabatan fungsional dalam rumah besar GKI Di Tanah Papua terdiri dari penatua, syamas, guru jemaat, penginjil, pendeta dan pengajar. Para pejabat fungsi ini bertugas mengurus dan merawat semua penghuni rumah ini, dan mengarahkan pandangan mereka ke depan, kepada Kerajaan Allah, agar kelak bersama umatnya masuk dan terhimpun dalam kerajaan sorga.

Melalui konsultasi ini kita semua pejabat fungsional mengevaluasi kinerja, loyalitas, dedikasi, spiritual dan tujuan kerja masing-masing dalam rumah ini; dengan sebuah pertanyaan: “Ke mana umat dan diri kita dibawah? Apakah dibawah masuk sorga ataukah neraka?” Ini sebuah pertanyaan yang begitu penting untuk direnungkan secara kolektif. Lewat konsultasi ini kita perlu mengubah arah pandang dan arah kerja kita, sehingga kita tidak kerja percuma sebagai seorang gembala, melainkan kita dapat berhasil membawa umat kita menuju Rumah Bapa di sorga. Singkat kata, kita bekerja bukan asal bekerja melainkan punya tujuan yang jelas.

Pemimpin fungsional pada prinsipnya memimpin umatnya dengan suatu keteladanan, dalam kata dan perbuatan, sehingga iman umatnya terbangunkan dan terarah dengan baik. Sepintas saya mendengarkan tentang pribadi seorang gembala yang mabuk, bekerjanya sudah tidak setia lagi, ini sebuah kenyataan yang perlu direnungan secara baik oleh kita. Sebagai pejabat fungsional, kita berkewajiban memelihara iman dari umat kita. Bila perilaku kita salah di depan umat kita, maka secara otomatis kita bertanggungjawab akan sumpah dan janji kita kepada Tuhan gereja ini (lih. Matius 18:6-11). Pemimpin yang telah menyesatkan umatnya, perlu ada pertobatan pribadi, sehingga ada anugerah Tuhan yang datang kepada kita. Inilah yang dimaksudkan dengan menata kembali rumah besar GKI Di Tanah Papua. Mari, kita semua menggunakan waktu anugerah Tuhan ini secara baik untuk memperbaiki semuanya, demi tujuan akhir kita, yaitu Sorga, Rumah Bapa.

  1. b.                  Jabatan Struktural

Selain pemimpin-pemimpin untuk iman dan kerohanian umat, kita pun memiliki pemimpin dalam jabatan struktural atau pemimpin organisasi, yang dimulai dari aras sinode sampai pada jemaat. Pejabat structural dimulai dari seorang Ketua BP Am Sinode, 45 Ketua BPK, 12 Ketua Bakal Klasis, 2100 Ketua PHMJ dan 8400 Ketua Badan Pelayan Unsur Jemaat, yang berjumlah total 10.558 orang. Ini baru pada jabatan ketua, belum lagi ditambah dengan wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan belum lagi ditambah dengan anggota BP Am, anggota BPK, anggota Majelis Jemaat dan sejumlah urusan dalam struktur gereja ini. Setiap hari semua pekerja ini bekerja dalam rumah besar ini.

Pekerjaan Tuhan dalam GKI Di Tanah Papua ini merupakan sebuah pekerjaan raksasa, yang dikerjakan oleh ribuan orang pekerja. Walaupun dengan memiliki sejumlah pekerja yang begitu besar, sampai saat ini, kita belum juga memperoleh hasil yang maksimal, oleh karena para pekerjanya belum maksimal konsisten dalam kerjanya. Pengaturan administrasi, pengaturan keuangan dan pengaturan aset milik gereja belum memiliki data yang jelas dan akurat. Sekian banyak bendahara yang mengatur keuangan rumah besar ini, hingga saat ini, belum member tanda-tanda  kinerjkanya yang memadai.

Sebenarnya, bila dicermati secara baik, fondamen kerja dan perangkat aturan gereja kita begitu jelas. Kita memiliki Alkitab PL dan PB, Tata Gereja, 17 Peraturan Gereja, 3 Peraturan Pengembalaan Gereja, dan 3 Pedoman Gereja, tetapi mengapa sampai saat ini rumah besar GKI Di Tanah Papua belum  lagi berjalan secara teratur? Apakah karena Alkitab, Tata Gereja dan berbagai aturan dalam lembaga ini tidak jelas? Tidak! Itu bukan alasan yang mendasar. Alasan mendasar ialah kinerja para pekerjanya yang tidak berdasarkan pada tugas panggilannya, tidak takut akan Tuhan, tidak jujur dan setia, sehingga maksimalisasi hasilnya pun tidak nampak.

Rumah besar ini berjalan tidak teratur karena manusianya (pekerjanya) yang berjalan dan bekerja tidak teratur. Sembilan puluh persen rumah ini tidak diatur baik, karena manusia yang bekerja dalam rumah ini, masing-masing bekerja menurut maunya sendiri. Karena itu, besar harapan saya, kita perlu kembali pada koridor hukum Tuhan untuk mengatur kembali rumah besar ini. Saya tidak menemukan kunci lain, selain mengintropkesi diri, mengubah cara pandang dan cara kerja kita. Kalau seperti itu yang kita lakukan maka ada hasil yang baik kita peroleh secara bersama.

Seorang pimpinan pada aras jemaat bila bekerja baik dan takut akan Tuhan, dan memiliki ara pandang yang jelas dan eskatologis, maka hasilnya ialah kita bakal mengantar umat kita menuju Rumah Bapa di sorga. Bila ia memiliki spiritualitas yang baik dalam GKI Di Tanah Papua, yang adalah manifestasi rumah Bapa di sorga itu, dan dengan bersungguh-sungguh menjalankan tugas penggilan ini dengan baik, maka pekerjaan GKI Di Tanah Papua pasti saja baik. Perlu ada komitmen bersama di antara seluruh pekerja dalam rumah besar ini.

Pada prinsipnya pendidikan itu memang penting, tetapi ia bukan satu-satunya faktor penentu yang dapat mengubah gereja ini. Bila seorang yang memiliki pendidikan tinggi pada jenjang S1, S2, dan S3,  tetapi bila tidak dibarengi dengan sikap takut akan Tuhan, setia, jujur dan dengar-dengaran, jangan berharap kalau ia bisa melakukan perubahan yang berarti dalam  gereja ini. Kitalah yang bakal menjadi gemuk dengan ilmu, tetapi jemaat kita bina menjadi kurus dalam iman dan rohaninya. Seorang pendeta harus sekolah di jemaat, dalam arti ia harus memahami dan mengetahui serta mempelajari tentang persoalan hidup pribadi, dan bagaimana mencari jalan keluar bagi masalah yang dihadapi jemaatnya. Seluruh unsur dalam rumah besar ini merupakan objek penelitian dari pendidikan seorang pelayan dalam jemaat. Ada sejumlah masalah yang perlu distudikasuskan oleh seorang pendeta di dalam jemaatnya, bukannya berbondong-bondong menuntut ilmu, sehingga melupakan pekerjaan utamanya. Akibatnya, begitu banyank anggota jemaat kita menjadi kurus dalam iman rohaninya, sedang pendetanya gemuk dengan ilmu pengetahuannya. Gereja ini tidak memerlukan orang pintar, melainkan butuh orang yang dengar-dengaran, melaksanakan tugas pengembalaan dengan baik dan menjangkau hati umat kita; sehingga umat terhibur dan bersukacita di dalam kamar rumah besar ini. Bilamana seorang pelayan melaksanakan tugasnya dengan baik dan setia, maka ada kebahagiaan yang diperoleh dalam setiap kamat dalam sebuah klasis dalam rumah ini. Dan, apabila seluruh klasis menunjukkan hal itu secara baik, maka tanda-tanda kerajaan Allah itu: damai sejahtera, kebenaran, keadilan dan kejujuran itu akan nyata dalam GKI Di Tanah Papua.

Selain itu, sekian lama kita hidup dan bekerja tidak adil terhadap teman-teman kita; ada yang sejahtera ada pula yang tidak sejahtera. Ada di antara para pendeta yang menikmati gaji utuh, ada yang separoh dan ada pula yang tidak sama sekali. Tetapi, syukur kepada Tuhan, keputusan kita bersama di dalam rumah besar ini sedikit-demisedikit kita mulai menjawab kesejahteraan para pekerja dengan sentralisasi gaji, dan sekarang ini telah dan sedang berjalan. Sudah banyak orang yang berkorban nyawa karena menggumuli soal kesejahteraan ini, dan sudah banyak yang meninggal karena utangnya gereja ini.

Sejak tanggal 23 Agustus 2012, di dalam pergumulan yang berat dalm rumah ini, kita mempersembahkan kepada Tuhan Allah, utang gaji kita, yang sebenarnya oleh hukum negara, sinode harus bertanggung jawab membayar utang gaji itu. Karena kita menghendaki suatu perubahan dalam rumah besar ini, maka utang-utang gaji itu kita tutup, kendatipun ada di antara kita yang tidak paham akan hal ini. Soal ini, saya teringat ketika melayani di Mamberamo, selama kurang lebih 9 tahun bekerja di sana tidak menerima gaji secara baik dari gereja ini. Mungkin beberapa tahun itu tidak terlalu berarti, sebab saya percaya, ada di antara kita yang lebih lama masa kerjanya dari saya, yang tidak pernah menerima gaji oleh gereja ini.

Andaikan 1651 pegawai GKI Di Tanah Papua mengajukan tuntutan kekurangan dan tidak menerima gaji, maka sudah pasti gereja ini akan ditutup. Tetapi, oleh karena iman dan kasih kita kepada Tuhan, maka kita berkomitmen untuk melupakan semua yang ada di belakang kita, dan melihat apa yang ada di hadapan kita, yaitu sentralisasi gaji para pelayan harus dilaksanakan, kendatipun di sana-sini masih belum berjalan secara penuh.

Atas nama pribadi, saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pelayan GKI Di Tanah Papua, baik yang sudah tiada, yang sudah pensiun tetapi masih hidup sampai saat ini, atas kerelaan saudara untuk memotong mata rantai ini, supaya kita membangun suasana yang baru dalam rumah besar ini. Besar harapan saya, tidak lagi muncul dalam rumah ini penagi-penagi utang, tetapi kalau pun utang itu ada, Tuhanlah yang kelak melunasi bagimu secara rohani; dan kalaupun GKI Di Tanah Papua sanggup, ia akan menyelesaikannya secara rupiah.

Dengan memiliki 1651 pegawai GKI Di Tanah Papua, dalam setiap bulan, sinode membutuhkan alokasi anggaran sebear Rp. 4.800.000.000,00 untuk membayar jaminan hidup  pegawai organik dan para pensiun dalam gereja ini. Bila dicermati secara baik, sebenarnya, alokasi anggran ini masih relatif kecil dibandingkan dengan harta kekayaan dalam gereja ini. Seluruh pekerja gereja ini akan ditunjang jaminan hidupnya secara baik, bila ada kebulatan tekat kita bersama, sebagaimana perkataan I.S. Kijne  bahwa “Siapa yang bekerja dengan jujur, setia dan dengar-dengaran, akan mendapat satu tanda heran kepada tanda heran yang lain,” dan GKI Di Tanah Papua mulai mengalami hal itu. Sejak tanggal 1 Mei 2013, sesudah Raker Sinode di Biak, di dalam rumah besar ini kita mulai melihat bahwa harta milik Tuhan dalam gereja ini tidak sedikit. Dari Rp. 1.200.000.00 pada bulan Maret 2013, mengalami perkembangan yang signifikan pada Mei 2013 menjadi angka Rp. 5.900.000.000,00. Menurut hemat saya, ini sebuah tanda heran dan tanda kejujuran dalam setiap kerja kita.  Karena kesetiaan dan kejujuran kerja teman-teman yang di kota, maka mencukupi kekurangan teman-teman di daerah-daerah terpencil. Ini yang dinamakan keseimbangan pelayanan dan keseimbangan kesejahteraan.

Karena itu, atas nama pribadi dan bersama seluruh pelayan yang bertugas di daerah-daerah terpencil, kami mengucapkan terimakasih kepada para pelayan yang bekerja dengan setia di daerah perkotaan. Biarkanlah rumah besar ini hidup, bertumbuh dan berkembang dalam keseimbangan, supaya ia tetap hidup di dalam Tuhan, Sang Pemilik rumah GKI Di Tanah Papua. Kalau sekian lama kita, masing-masing makan dengan sejahtera pada kamarnya, sekarang ini kita mengubahnya, dengan cara makan bersama, walaupun beda kamar, tetapi  ukuran, rasa menu sajian makanan kita tetap sama di semua kamar dalam rumah besar ini. Jangan ada lagi anggota pekerja dalam rumah besar ini, yang karena lapar di kamarnya, akibatnya rumah besar ini dilempari dan bahkan dibakari oleh mereka yang tidak makan itu. Oleh dan sebab itu, mari, secara kolektif, dalam kebersamaan kita kembali menata rumah besar GKI Di Tanah Papua untuk yang lebih baik.

Dalam hubungan dengan itu, saya meminta kepada kita semua supaya memberi wawasan rohani yang benar kepada semua bendahara, penatua dan syamas, sebagai orang yang bekerja di rumah Tuhan agar jujur, tulus dan benar dalam mengatur uang yang dipersembahkan dan dikuduskan bagi Tuhan. Bila seluruh pimpinan dalam gereja ini, baik pada aras sinode, klasis dan jemaat mengembalakan umat kita dengan baik, maka yang pasti umat itu akan memberi secara baik segala yang menjadi milik Tuhan. Dengan demikian, perbendahraan rumah ini akan berlipatganda sehingga tugas panggilan Tuhan dalam gereja ini, yaitu Koinonia, Marturia dan Diakonia tetap berjalan baik, demi mencapai tujuan bersama dalam rumah Bapa di sorga.

Menata kembali rumah besar GKI Di Tanah Papua memperlihatkan pada kita, kalau semua pekerja harus serius untuk memperhatikan hal kehidupan, kerja dan tujuan yang hendak dicapai, yaitu kesejahteraan dalam rumah besar ini. Semua ini dilakukan dari kita, oleh kita dan untuk kita.

Kalau hati 12 rasul yang berada di tengah-tengah kegelisaan dan tidak ada harapan, Yesus hadir memberi jawaban pasti “Aku pergi menyediakan tempat bagimu,” yaitu Sorga Rumah Bapa, juga adalah jawaban bagi seluruh umat dan para pekerja GKI Di Tanah Papua, baik para pemimpin fungsional maupun pemimpin struktural. Semoga rumah besar GKI Di Tanah Papua dapat kita tata secara rohanistis dan organistis, sehingga segala sesuatu dalam rumah besar ini dapat bermanfaat bagi kehidupan kerohanian dan jasmani kita.

Demikian beberapa hal yang menjadi gagasan menata kembali rumah besar GKI Di Tanah Papua, yang sedianya saya sampaikan pada saat ini. Akhirnya,  Tuhan, yang adalah Sumber berkat, senantiasa memberkati kita semua.

RMH KITASyalom!


Artikel ini ditulis pada : 24 Januari 2014 | Oleh : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Injil Di Hari :

Sumber Menambahkan Alkitab Di Blog - BaseCamp Setiakawan Follow us: @valenthuba on Twitter | vhuba on Facebook

Pengujung :

Link Internasional :

Twitter RESMI :

Galeri Foto

Kumpulan Foto Kegiatan GKI Di Tanah Papua

Galeri Video

Kumpulan Video Kegiatan GKI Di Tanah Papua