Selamat Datang di Website Resmi Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua. Alamat:Jln.Argapura 9,Kotak Pos 1160,Jayapura 99222,Papua, Fax: (0967)533192 informasi mail : wirewit.gkiditanahpapua@gmail.com / hp : (+62) 0821-9930-1804

TEOLOGI PERSEKUTUAN DAN INPLEMENTASINYA

TEOLOGI PERSEKUTUAN DAN INPLEMENTASINYA

DALAM KEHIDUPAN GKI DI TANAH PAPUA

Pdt. DR. Sostenes somihe, M.Th

PENGANTAR

TEOLOGI PERSEKUTUANBadan Pekerja Am Sinode (BPAS) meminta saya menyampaikan ceramah mengenai berteologi dalam konteks koinonia. Permintaan ini saya terima dengan antusiasme yang tinggi karena koinonia atau persekutuan adalah hakekat GKI di tanah Papua. Sebagai hakekat dan jati diri persekutuan itu mengungkap nilai teologi yang anut oleh gereja ini. Karena itu, persekutuan bukan konteks, melainkan nilai teologis yang mendasari kiprah GKI di tanah Papua dalam menghadapi berbagai isu yang hidup di dalam gereja dan masyarakat. Jadi, sekali lagi, koinonia atau persekutuan bukan konteks GKI, tetapi jati diri GKI, yang di dalamnya terkandung nilai teologi yang melandasi kehidupan GKI di tanah Papua. Persoalan kita adalah pada implementasi persekutuan itu di dalam kehidupan bergereja. Karena itu, saya merubah judul cerama dari “Berteologi dalam konteks koinonia” menjadi “Teologi Persekutuan dan Implementasinya dalam Kehidupan GKI di tanah Papua.”

JATI DIRI GKI DI TANAH PAPUA

Dalam Pengakuan GKI (Tata Gereja Bab II pasal 5), terdapat 4 (empat) yang dicatat, yang mencirikan jati diri GKI, yaitu:

  1. GKI di Tanah Papua adalah persekutuan
  2. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Kepala Gereja yang memerintah dengan Firman dan Roh
  3. Alkitab adalah satu-satunya penyataan Allah
  4. GKI Di Tanah Papua adalah gereja yang kudus dan Am

Menarik untuk diperhatikan bahwa pengakuan itu tidak bermula dari surga, tetapi dari bumi. Yaitu tidak dimulai dengan pengakuan mengenai Tuhan, tetapi mengenai gereja. Ini berbeda dengan struktur pengakuan yang lazim, seperti Pengakuan Iman Rasuli yang di mulai dari Allah: “Aku Percaya kepada Allah Bapa…!” Pembalikan sorga dengan bumi ini bukan kekeliruan dalam berteologi. Pembalikan ini sendiri adalah hasil dari sebuah pemikiran teologi. Kalau orang bertanya: “Mana teologi GKI?” Dengan bangga dan dalam kerendahan hati kita menunjuk kepada pengakuan itu.

Kalau pengakuan itu dimulai dari bumi, dan menempatkan GKI sebagai persekutuan pada awal pengakuan, mengisyaratkan bahwa gereja ini sebagai satu persekutuan lahir dalam suatu konteks tertentu. Gereja tidak lahir dalam ruang hampa melainkan dalam satu konteks dan realita sosial tertentu. Sebagaimana kita tahu, sebelum ada jemaat-jemaat Kristen di tempat tertentu sudah ada kampung- kampung sebagai  sebuah komunitas sosial yang diikat oleh nilai-nilai kultural. Dan di dalam komunitas sosial dan adat itu Injil diberitakan. Di sana, oleh kekuatan injil, tercipta komunitas sosial baru yang disebut jemaat. Hakikat atau jati diri dari komunitas baru ini adalah persekutuan. Persekutuan ini sebagai jabaran dari istilah koinonia mengandung makna persekutuan pada tataran vertikal maupun harizontal, yaitu: persekutuan dengan Allah di dalam Yesus Kristus. Pemahaman teologis ini mengkristal  dalam pengertian jemaat dalam GKI, yaitu bahwa jemaat adalah “persekutuan orang Kristen di suatu tempat tertentu yang menampakan diri dalam pertemuan-pertemuan ibadah secara teratur” (Tata Gereja Bab IV pasal 15).

Pemahaman persekutuaan tersebut mengisyaratkan bahwa GKI sebagai persekutuan selalu dan untuk selamanya terhubung dengan Yesus Kristus. Oleh karena itu, alinea kedua pengakuan GKI menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Kepala Gereja. Yesus Kristus tidak dipahami sebagai Tuhan yang transenden, tetapi Tuhan yang imanen, yang hadir dan terlibat dalam kehidupan gereja ini. Ia memerintah gereja ini di dalam Firman dan Roh. Imanensi Yesus Kristus tersebut dikaitkan dengan pemberitaan Firman dan keterlibatan Roh Kudus yang menuntun dan memelihara umat percaya. Kehidupan dan pelayanan gereja ini berlangsung di dalam kuasa Roh Kudus. Oleh Firman dan Roh kemurnian hakikat GKI sebagai persekutuan dengan Tuhan akan terlihat dalam kesalehan hidup setiap  warga gereja, yang telah hidup di dalam terang (ingat  Moto GKI : Efesus 5 :8). Dimensi pnemautologis ini hendak mengingatkan kita kepada warisan Pietisme yang mendorong gerakan penginjilan pada abad 19 (pietisme…).

Pemerintahan dan karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan kepada Gereja dipertegas dalam pengakuan bahwa Alkitab adalah satu-satunya penyataan Allah. Alkitab adalah Firman Allah yang memimpin pengakuan, kehidupan, persekutuan, pelayanan dan kesaksian  gereja. Pengakuan kita pada karakter protestantisme yang menekankan supermasi Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran iman. Warisan Calvinismepun dikristalkan dalam pengakuan tersebut

Ke-Tuhan-an  dan pemerintahan Yesus Kristus dalam gereja oleh Firman dan Roh, sebagaimana disebutkan tadi, mempertegas efek karya keselamatan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, yang menjadikan GKI sebagai persekutuan yang kudus dan am. Karakter kudus itu hendak menegaskan bahwa gereja berbeda dengan komunitas yang lain. Dalam kekudusannya, yang bersumber pada Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dan Kepala gereja, gereja tidak dapat dan tidak boleh dipengaruhi oleh apapun di luar dirinya. Di luar gereja bisa saja ada korupsi, tetapi gereja tidak boleh terpengaruh dengan kurupsi di luar gereja dan ikutan-ikutan korupsi. Bisa saja di luar gereja ada  ketidakadilan, tetapi gereja harus bebas dari ketidakadilan. Gereja tidak sama dengan komunitas lain. Yesus telah mengingatkan kita dalam doa-Nya bahwa umat percaya ada di dunia tapi bukan dari dunia (Yohanes 17: 16 ). Rasul Paulus menekan hal yang sama ketika menasehati jemaat di Roma:  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (12:2).

Karya keselamatan Yesus Kristus memberikan pula karakter am kepada gereja. Gerja yang kudus itu melampaui batas-batas  budaya, bahasa, bangsa, idiologi, sosial, politik dan ekonomi. Karakter  tersebut telah terklistalisasi dalam penamaan gereja ini: Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua. Gereja Kristen ada di mana saja di dunia ini, termasuk di Papua. Kata petunjuk “di” memiliki makna Teologis yang sangat penting. Kata itu menegaskan  karakter am GKI. Gereja ini tidak  tertutup untuk suku dan kelompok etnis tertentu saja (Papua), tetapi gereja bagi semua orang yang percaya kepad Tuhan Yesus, apapun latar budaya, bahasa, dan suku. Di sini terletak sifat GKI yang oukumenis.  Oikumenis GKI ini diwujudkan dalam pengakuan dan penerimaan   atas pengakuan iman oikumenis serta keanggotaannya pada lembaga-lembaga gerejawi internasional (DGD), nasioal (PGI ), dan lokal (PGGP). Dalam keberadaannya yang oikumenis ini GKI hadir dan melayani di dalam konteks tertentu. Maka  “di” jugas menegaskan dan menggarisbawahi kehadiran yang khusus dalam konteks tertentu, yaitu Papua. Jadi, “di” mempertahankan keseimbangan antara sisi kehadiran GKI pada tataran yang universal pada konteks yang khusus:

Dalam keseimbangan tersebut Gereja Kristen itu mejalankan misinya memberitakan injil. Injil ini bahkan memberikan karakter khusus yaitu “Injil,” yang selalu hidup berdasarkan dan di dalam Injil, yang membuat gereja ini memiliki sifat misioner. Sifat ini di implementasikan dalam amanat GKI (Ttata gereja bab II pasal 6):

  1. Memberitakan Firman Allah
  2. Melaksanakan sakramen
  3. Melakukan pengembalaan
  4. Menjalankan sakramen

Kiranya menjadi jelas bahwa pengakuan dan amanat  telah mengurai makna kehadiran GKI di tanah Papua baik jati dirinya maupun tugas panggilan yang harus dijalankan. Pengakuan menggaris bawai hakekat GKI sebagai persekutuan. Tetapi bukan persekutuan yang tertutup untuk dirinya, melainkan persekutuan yang hadir untuk dunia. GKI adalah persekutuan yang bersaksi dan melayani melalui pemberitaan firman, sakramen, pengembalaan, dan pelayanan kasih.

PERSEKUTUAN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEHIDUPAN GKI

Persekutuan sebagai jati diri GKI tidak bisa tidak harus diimplementasikan dalam kehidupan gereja ini. Sudah disebutkan di atas bahwa GKI adalah persekutuan yang bersaksi dan melayani. Maka implementasi persekutuan ini pertama-tama berkaian dengan amanat GKI sebagaimana disebutkan di atas. Pemberitaan Firman harus mendorong warga jemaat semakin bersekutu dengan Tuhan dan Kepala Gereja, yaitu Yesus Kristus serta terbangunnya persekutuan yang kokoh di antara sesama warga gereja. Menjadi keprihatinan kita bahwa ibadah-ibadah jemaat belum mencerminkan  persekutuan semua oraang Kristen yang ada di jemaat itu. Rumusan tentang jemaat dalam tata gereja, sebagaimana sudah di catat sebelumnya, menghendaki persekutuan orang Kristen dalam ibadah jemaat sesuai jumlah yang ada dalam jemaat. Sudah lama kita menyaksikan kehadiran warga jemaat dalam ibadah-ibadah belum maksimal. Namun hal ini tidak mendapat perhatian serius untuk dicari solusinya. Kiranya konsultasi teologi ini dapat melihat dan memecahkannya, bukan hanya sekedar masalah teknis, melainkan benar-benar sebagai masalah teologi.

Persekutuan dalam gereja adalah masalah teologi, karena persekutuan itu tercipta oleh tindakan Allah di dalam Yesus Kristus. Ketika dosa memisahkan dan menjauhkan manusia dari Allah, insiatif untuk mendekatkan relasi di antar kedua  belah pihak selalu berasal dari Allah. Allah adalah subjek dalam tindakan menciptakan persekutuan. Maka dapat dipahami bila Yesus mempertaruhkan persekutuan umat yang diselamatkan-Nya kepada Allah, Sang Bapa. Dalam doan-Nya Yesus  berkata demikian:

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada Aku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau Ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalan Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, agar dunia percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku. (Yoh 17:20-21).

Amanat GKI, sebagaimana disebutkan sebelumnya, tidak dapat dilepaskan dari tindakan Allah di dalam pelayanan gereja untuk mempersatukan umat-Nya, baik dengan diri-Nya maupun dengan sesama umat itu sendiri.

Sakramen, baik  baptisan kudus maupun perjamuan kudus harus dihayati sebagai pristiwa sogawi yang berlangsung di bumi. Dalam hubungan ini, Calvin menyebutkan sakramen itu “suatu tanda lahiriah yang dipakai Allah untuk memateraikan dalam batin kita janji-janji akan kerelaan-Nya terhadap kita, supaya iman kita yang lemah diteguhkan” (Calvin 2013:275). Sekarang ini GKI sedang diperhadapkan dengan masalah baptisan pertobatan yang dikembangkan dalam kalangan pentakostal. Masalah ini telah mempengaruhi persekutuan dalam GKI dengan akibat antara lain dibaptisnya ulang jemaat dan pejabat gereja. Sekalipun dampak dari  persoalan baptisan itu tidak meruntuhkan seluruh bangunan rumah GKI, namun apabila diabaikan bukan tidak mungkin akan merusak pemahaman GKI mengenai baptisan. Oleh karena itu, kiranya tidak berlebihan kalau pada kesempatan lain perlu diadakankan konsultasi teologi tentang baptisan.

Pengembalaan adalah salah satu amanat dalam GKI yang patut mendapat perhatian serius. Kemajuan masyarakat sebagai dampak pembangunan dan modernisasi Papua telah membawa serta penyakit-penyakit sosial yang turut mempengaruhi  kehidupan warga gereja. Masalah sosial, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan telah menjadi pergumulan dan beban hidup waga jemaat. Di tengah komplesitas masalah-masalah tersebut, warga jemaat membutuhan  pendampingan, penguatan dan kedewasaan yang diperoleh dari proses pastoral. Dengan mengapresiasi pelayanan pastoral yang sudah berjalan selama ini, kita masih harus mencari strategi pelayanan pastoral yang memadai, terutama jemaat-jemaat yang memiliki warga jemaat lebih dari 2000 yang hanya dilayani oleh satu atau dua orang pendeta. Terbatasnya jangkauan pelayanan pastoral  bagi warga jemaat dapat mempengaruhi secara negatif persekutuan secara negatif  persekutuan dalam jemaat.

Pelayanan kasih tidak hanya sekedar membagi-bagi raskin kepada janda dan duda serta mereka yang lemah ekonomi. Tetapi memperdayakan dan membangun potensi yang mereka miliki untuk sebuah kemandirian dan ketahanan hidup. Diakonia mesti membebaskan.

Diakonia tanpa pembebasan akan melanggengkan diskriminasi sosial dan tidak menciptakan sebuah persekutuan dan kebersamaan dalam masyarakat maupun dalam gereja. Upaya diakonia pembebasan ini sangat penting dan mendesak untuk diberlakukan dewasa ini  mengingat  penguasaan ekonomi oleh sekelompok orang telah menciptakan mata-rantai  kemiskinan bagi sebagian masyarakat, termasuk di dalamnya warga gereja. Karena itu, diakonia pembebasan harus disertai pemutusan mata-rantai penguasaan ekonomi oleh sekelompok orang yang memiskinkan mayarakat yang lain. Tapi upaya ini tidak boleh merusak kebersamaan dan persekutuan dalam masyarakat. Sebaiknya, upaya ini harus menciptakan dan mempertahankan kesetaraan kesejahteran bagi segenap anggota masyarakat. Dengan demikian, diakonia benar-benar  menjadi sebuah pelayanan kasih.

Implementasi  persekutuan itu tidak hanya bersentuhan dengan amanat gereja ini. Jabatan-jabatan gereja (Tata Gereja Bab III, pasal 7-13: penatua, syamas, pendeta, guru jemaat, guru injil dan pengajar) dengan amanatnya masing-masing mencerminkan bahwa jabatan itu saling membutuhkan, mengisi dan melengkapi. Maka diingatkan “janganlah seorang pejabat menguasai pejabat yang lain” (Tata Gereja III, pasal 14:1). Jabatan  dan pejabat yang satu tidaklah lebih tinggi dari yang lain. Semua jabatan dan pejabat sama-sama dipanggil dan bekerja di bawah Yesus Kristus  yang adalah Tuhan dan Kepala Gereja ini. Itulah sebabnya prinsip kepemimpinan gereja ini, sebagai jabaran dari persekutuan adalah kolegalitas. Prinsip ini dicerminkan oleh kepemimpinan dalam jemaat oleh Majelis Jemaat (Tata Gereja Bab IV, pasal 18).

Struktur institusional gereja pun mencerminkan jati diri gereja ini sebagai sebuah persekutuan. Pada level basis  ada jemaat sebagai persekutuan orang Kristen di tempat tertentu (Tata Gereja Bab IV). Pada jenjang berikutnya terdapat klasis sebagai “persekutuan sejumlah jemaat” (Tata Gereja Bab V, pasal 21:2). Sesudah itu terdapat sinode sebagai “persekutuan seluruh jemaat Gereja Kristen Injili  di tanah Papua” (Tata Gereja Bab VI pasal 26). Dalam struktur yang menekankan kebersamaan para pejabat dalam semua jenjang institusi gereja ini, maka sistem kepemimpinan  gereja ini dikenal dengan sebutan Presbiterial Sinodal, para tua-tua dalam gereja berjalan bersama-sama.

Kiranya jelas bagi kita bahwa persekutuan sebagai jati diri GKI telah terimplementasikan dalam seluruh kehidupan gereja ini. Pertanyaannya: Apakah dalam praksis bergereja persekutuan itu benar-benar telah di berlakukan? Apakah pekerjaan dan pelayanan kita dalam gereja ini telah mengungkap dan menampilkan persekutuan dan kebersamaan? Apakah kita sudah menjalankan amanat jabatan dan tugas institusional dan prinsip berjalan bersama?

MENATA ULANG PERSEKUTUAN

Kita semua pasti tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan jawaban kita pasti sama, yaitu bahwa jati diri GKI sebagai persekutuan dan prinsip berjalan bersama belum kita berlakukan secara memadai dan maksimal. Dalam menjalankan fungsi jabatan gerejawi dan tugas institusional acapkali kita masih berhadapan dengan kondisi tidak jalan bersama yang membuat samar persekutuan sebagai hakikat GKI. Tentu saja ini bukan sebuah kesengajaan, karena tidak ada seorangpun dari kita yang hendak menghancurkan gereja yang Tuhan dan kepalanya adalah Yesus Kristus sendiri. Jasa terbesar dari kondisi itu diberikan oleh ketidakpahaman mengenai persekutuan sebagai jati diri GKI. Maka dalam kerangka menata dan membangun kembali rumah kita, pemahaman atas persekutuan serta prakteknya dalam hidup bergereja patut ditata ulang.

Kesejahteraan pekerja gereja adalah salah satu aspek yang rawan terhadap ketidakadilan yang dapat merusak persekutuan. Sudah lama kita berjalan dalam ketidakseimbangan jaminan hidup antara pekerja yang mengabdi di jemaat dan klasis kota dengan yang di luar kota. Langkah sentralisasi pembayaran jaminan hidup, yang diambil pimpinan GKI sekarang, benar-benar sebuah lankah strategis untuk memberikan bentuk yang kongkrit terhadap persekutuan dalam gereja ini.

Prinsip jalan bersama bersentuhan juga dengan program-program dan pengelolaan keuangan gereja. Kita masih mengalami benturan dan ketidaksingkronan antara program-program pada struktur jemaat dan klasis bahkan sinode. Keputusan-keputusan sidang gerejawi tidak saling mengisi dan melengkapi. Sudah waktunya untuk menata ulang mekanisme sidang-sidang gerejawi dengan menekankan prinsip berjalan bersama.

Dalam kehidupan peribadahan kita harus menata ulang kebersamaan dalam penentuan pokok bacaan Alkitab dan nyanyian yang digunakan pada hari minggu. Di beberapa klasis seperti Klasis Sorong, Klasis Biak Selatan telah mengusahakan daftar bacaan. Diharapkan ini tidak hanya ada di klasis tertentu, tetapi  berlaku secara sinodal.

Beberapa hal yang disebutkan tadi memberikan indikator kepada kita bahwa persekutuan dan prinsip berjalan bersama itu belum berlangsung sebagaimana mestinya. Menjadi tugas panggilan kita untuk menata ulang persekutuan agar prinsip berjalan bersama yang menjadi karakter dalam hidup bergereja di GKI dapat diberlakukan. Landasan untuk menata ulang telah tersedia, yaitu gagasan Membangun Kembali Rumah Kita.

PENUTUP

Persekutuan memberikan karakter yang khusus bagi GKI. Di dalam gereja berhimpun orang yang percaya kepada Kristus dari latar belakang sosial, budaya, bahasa, suku dan tradisi yang berbeda-beda. kepelbagaian nilai yang dimiliki warga gereja itu tidak menjadi kendala untuk hidup dalam kebersamaan sebagai satu persekutuan.

Persekutuan itu perlu dijaga, dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk itu, beberapa aspek yang belum maksimal mencerminkan persekutuan, patut mendapat perhatian guna penataannya, agar persekutuan sebagai jati diri GKI benar-benar menjiwai seluruh kehidupan bergereja dalam GKI.

GKI sekarang ini belum menampilkan dirinya secara maksimal seperti  yang digambarkan dalam tata gereja. GKI masih bisa  lebih tinggi kualitas persekutuan daripada yang kita jalani sekarang ini. Marilah kita maksimalkan tampilan persekutuan dan seluruh aspek pelayanan dan kehidupan gereja ini. Karena membaik dan meningkatnya kualitas persekutuan akan membuat kehadiran GKI sebagai sebuah kesaksian. Dengan ini kita memenuhi Doa Sang Kepala Gereja “Supaya mereka semua menjadi satu, agar dunia percaya” (Yoh.17:21).

 

 

 

 


Artikel ini ditulis pada : 27 Januari 2014 | Oleh : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Injil Di Hari :

Sumber Menambahkan Alkitab Di Blog - BaseCamp Setiakawan Follow us: @valenthuba on Twitter | vhuba on Facebook

Pengujung :

Link Internasional :

Twitter RESMI :

Galeri Foto

Kumpulan Foto Kegiatan GKI Di Tanah Papua

Galeri Video

Kumpulan Video Kegiatan GKI Di Tanah Papua

PROFIL BPAM SINODE GKI DI TANAH PAPUA 2017-2022

PESAN PASKAH

GKI DI TANAH PAPUA 2017 ( PHOTO DOC )