Selamat Datang di Website Resmi Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua. Alamat:Jln.Argapura 9,Kotak Pos 1160,Jayapura 99222,Papua, Fax: (0967)533192 informasi mail : wirewit.gkiditanahpapua@gmail.com / hp : (+62) 0821-9930-1804

BER-TEOLOGI DALAM KONTEKS DIAKONIA GKI

BER-TEOLOGI DALAM KONTEKS DIAKONIA

GEREJA KRISTEN INJILI DI TANAH PAPUA

(Oleh: Pdt. DR. Anthon Rumbewas, M.Teol.)

“Berteologi diakonia menunjuk pada upaya

membangun jembatan teologi antara

misi Allah dan tindakan konkrit Gereja dalam konteksnya”

(Anthon Rumbewas)

1.  PENDAHULUAN

Pertemuan penting yang tak boleh kita abaikan sebelum Konsultasi Teologi II ini adalah pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan khususnya Konferensi Misi PI ke-II GKI Di Tanah Papua yang telah berlangsung di sorong dari 1-4 Februari 2013. Pertemuan-pertemuan dan konferensi Sorong penting karena telah meletakkan landasan berpikir bagi upaya pengembangan teologi misi yang punya hubungan dengan tiga fungsi pelayanan gereja (koinonia, diakonia dan marturia), yakni: (1) konsep teoritis tentang misi pekabaran Injil serta korelasinya dengan Tri-panggilan Gereja atau rancang bangun teologi yang tanggap terhadap kebutuhan konteks. Kemudian, (2) membangun kesadaran dan tanggung jawab bagi upaya mengimplementasikan fungsi-fungsi pelayanan gereja tersebut dalam berbagai aspek kehidupan bergereja secara nyata.

Sedangkan Konsultasi Teologi II di Klasis GKI Paniai memiliki makna yang sangat strategis karena konsultasi ini akan merumuskan teologi diakonia sebagai sistem berteologi GKI dalam konteksnya untuk menyatukan karya pelayanan Yesus di dalam dunia, dengan tindakan yang diaktualisasikan melalui Tri-panggilan Gereja. Dengan begitu, berteologi dalam konteks diakonia mengandung dua makna, yaitu: pertama, makna lugas. Makna ini berarti, tindakan manusia di dalam dunia, tindakan horizontal yang berhubungan dengan respons gereja dalam menyikapi dinamika sosial, budaya, ekonomi, politik, yang berdampak terhadap iman serta misi gereja. Kedua, makna teologis. Makna ini berhubungan dengan penyesuaian dan partisipasi gereja dalam tindakan Allah.

2. TEOLOGI DAN BER-TEOLOGI

Istilah-istilah yang menjadi judul pembahasan ini tiada hentinya digunakan dalam percakapan-percakapan kita, dan maknanya telah menjadi sebuah perspektif yang umum serta mudah dipahami. Namun dalam hubungan dengan diakonia, istilah-istilah ini mengarahkan perhatian kita kepada dua makna khusus, yaitu kepada struktur berpikir yang transenden dengan Allah dan struktur berpikir yang imanen dengan sesama (realitas sosial). Itulah sebabnya, pengertian-pengertiannya harus dipahami secara tepat. Hanya demikianlah, upaya berteologi dalam konteks diakonia GKI dapat dijembatani kearah perumusan diakonia sebagai prinsip teologi, dan bukan tugas tambahan bagi gereja.

2.1. Teologi dan Isi Teologi

2.1.1. Teologi

a)    Teologi secara sebenarnya berarti: logos (bahasa, pembicaraan) tentang theos (Allah). Pengertian yang inklusif berarti: berbicara secara bertanggung jawab tentang Allah.

b)   Teologi dapat dipahami pula sebagai bicara-bicara, dan oleh sebab itu berpikir-pikir, merenungkan dan memahami tentang Allah lalu bertindak berdasarkan bicara-bicara itu.

c)    Teologi adalah upaya dari persekutuan orang-orang percaya untuk menguraikan apa yang mereka percayai secara rasional, konsisten, sistematik, dengan bertolak dari kepercayaan mereka kepada Allah.

d)   Teologi dipahami juga sebagai refleksi iman dalam konteks.

 

2.1.2. Isi Teologi

Isi suatu teologi pada dasarnya mencerminkan upaya perekaman, pengkajian, pertimbangan, penilaian, pembahasan yang jelas terhadap model atau contoh berteologi penulis-penulis Alkitab yang intinya adalah bagaimana penghayatan dan pengamalan mereka tentang kasih Allah yang menyelamatkan itu (Yoh 3:1). Jika dihubungkan dengan berteologi dalam konteks diakonia, maka konsultasi teologi ini hendak merumuskan serta menghubungkan kerugma Alkitab dan pergumulan nyata yang berkenan dengan seluruh tugas panggilan dalam konteks GKI.

2.2. Tanggung jawab Teologi

Tanggung jawab yang ada pada teologi bersifat rangkap. Pertama adalah tanggung jawab terhadap penyataan Allah, atau teologi harus berbicara sesuai dengan penyataan Allah. Kedua, ada tanggung jawab terhadap pikiran dan ilmu pengetahuan manusia, logika manusia: teologi harus berbicara ilmiah sesuai dengan hukum-hukum pikiran manusia.

Dengan demikian, tanggung jawab teologi tidak dapat diabaikan dari pengetahuan dan kepandaian yang diberikan Allah bagi manusia untuk berpikir dan berbuat. “Allah yang memberi pengetahuan dan kepandaian….” (Dan 1:17), “…bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” (Kol 1:10), “…Tetapi kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:6), “…kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan….” (Yes 33:6).

Fakta yang berhubungan dengan tanggung jawab teologi ini jika diabaikan, maka teologi yang kita hasilkan berdampak: (1) mengahasilkan moralitas yang keliru, (2) menyesatkan, dan (3) tidak bertanggung jawab terhadap Allah, tetapi kepada akal budi (pengaruh filsafat modern).

2.3. Ber-Teologi

Berteologi ialah kesanggupan dan ketrampilan mengungkapkan secara teratur dan jelas teologinya. Sedangkan, dasar berteologi adalah kesediaan kita untuk mendengar apa yang dikatakan Firman Tuhan dan menyakininya, serta mengaktualisasikan yang kita dengan dan yakini itu. Mengaktualisasikan yang didengar dan yang diyakini serta yang dipatuhi itulah yang disebut berteologi. Dengan lain perkataan, berteologi merupakan suatu tindakan atau aktivitas membangun relasi antara konteks Firman Tuhan dan konteks kehidupan bergereja di masakini. Berteologi menunjuk pula pada bagaimana  Firman Allah menggarami, membarui kehidupan manusia, dan menerangi permasalahan-permasalahan hidup manusia sehingga dapat dengan leluasa meresponi panggilan Allah.

2.4. Siapa yang Berteologi dalam Konteks Diakonia GKI ?

Di satu pihak, ada yang mengatakan, bahwa pada hakekatnya semua orang (anggota jemaat diharapkan) berteologi untuk menjadi sumber motivasinya bertindak menghayati dan mengamalkan amanat hidupnya. Di lain pihak, ada pandangan bahwa yang berteologi adalah pendeta-pendeta, Guru Jemaat, Penginjil. Namun berdasarkan teologi imamat am orang percaya, mereka yang bertanggung jawab membangun tubuh Kristus adalah semua orang percaya yang hidup dan tertata dalam sistem kelembagaan atau institusional GKI.

Untuk dapat membuat, baik warga jemaat maupun para pelayan khusus memiliki kemampuan atau ketrampilan berteologi, maka perlu dilengkapai oleh mereka yang trampil dan oleh sebab itu, berpendidikan dan berketrampilan khusus untuk itu. Mereka yang berpendidikan dan berketrampilan khusus itu adalah: teolog, majelis jemaat (pendeta, penatua, syamas), guru jemaat, penginjil, dan pengajar (guru sekolah minggu, guru PAK, dosen teologi) (Tata Gereja GKI Bab II jabatan dan fungsi, pasal 3 tentang jabatan).

3. DIAKONIA SEBAGAI PERSOALAN TEOLOGIS

3.1. Inti Pemahaman Diakonia

Secara umum pengertian diakonia berhubungan dengan tindakan memberi pertolongan, pelayanan atau melayani. Adapun pertolongan, pelayanan atau melayani yang dimaksud tidak terbatas pada segi-segi tertentu yang merupakan kebutuhan hidup sesama manusia, melainkan bersifat totalistis-humanistis atau holistik. Jadi pemahaman diakonia sesungguhnya mengandung nilai-nilai etis maupun teologis yang integral dengan eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah. Nilai-nilai etis-teologis menunjuk pada relasi dengan Allah dan dengan manusia. Relasi ini berhubungan dengan apa yang sepatutnya dilakukan manusia karena iman atau kepercayaannya kepada Allah. Ini berarti apa yang dilakukan kepada Allah sebagai jawaban imannya, harus pula dilakukan terhadap sesama sebagai wujud implementasi dari kehendak dan karya Allah. Sebaliknya, apa yang dilakukan kepada sesama manusia, harus merupakan tindakan yang bersumber dari apa yang sudah dilakukan Allah bagi dirinya.

3.2. Fakta Kristus: Aktualisasi Diakonia-Nya bagi Dunia

Fakta Kristus berarti kehadiran dan seluruh jalan hidup-Nya mulai dari kelahiran sampai kematian-Nya di salib. Inilah perjalanan diakonos (pelayanan) Yesus bagi dunia dan manusia. Sebagai diakoneo (Pelayan), Ia tidak saja mengajarkan arti dan makna diakonia, tetapi Ia mewujudkan arti dan makna diakonia itu melalui tindakan “solidaritas dan identifikasi diri-Nya dengan manusia berdosa. Solidaritas berarti: kesetiakawanan dengan manusia, dan identifikasi diri-Nya berarti: menyamakan diri-Nya dengan manusia. Inilah puncak aktualisasi diakonia yang dilakukan Yesus oleh karena keberpihakan-Nya kepada manusia (Yoh 3:16). Melalui fakta Kristus, Ia menghadirkan nilai baru yang menjadi gaya atau model bagi pelaksanaan diakonia gereja di masakini, yakni: gereja dalam berdiakonia harus mengikuti tindakan-Nya, yaitu melayani  dan rela berkorban. Kenyataan ini terealisir pada kesaksian-kesaksian berikut:

F  “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat 20:28 dan Mrk 10:45). Hal ini dimulai sejak kelahiran-Nya di kandang (palungan) di Betlehem. Inilah karya diakonia keselamatan yang terbesar dalam sejarah dunia, sebab Ia tidak memperhitungkan keilahian-Nya sebagai Anak Allah yang harus dipertahankan.

F  Demikian pula, Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20:26-27).

F   “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:14-15).

F   “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:10b-11).

F  “…Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan….” (Mat 16:21; Mrk 8:31).

F  “…karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Ptr 2:21).

F  “Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah” (Why 2:3).

F  “…Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah” (1Ptr 2:20).

F  “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10).

F  “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp 3:10).

 

Kesaksian-kesaksian di atas menegaskan bahwa diakonia baru dapat dipahami sebagai teologi, hanya jika direlasikan dengan seluruh karya dan hidup Yesus.  Dari perspektif fakta Kristus ini, maka diakonia gereja tidak saja dipahami sebagai pelayanan yang bersifat rutinitas dalam jemaat. Diakonia yang sesungguhnya adalah diakonia yang berpihak dan mencerminkan “pikiran Kristus” (1Kor 2:16), apa yang dilakukan haruslah menjadi model tindakan gereja. Tindakan Yesus harus menjadi ukuran dari tindakan gereja atau umat Allah. Gereja harus mampu mengikuti jalan ini jika mau menjadi gereja yang melayani.

 

4. PELAYANAN YESUS SEBAGAI MODEL DIAKONIA GEREJA

 

Misi Yesus sangat unik, sebab hanya Yesus yang dapat mati di kayu salib untuk menyelamatkan orang berdosa. Untuk melanjutkan karya-Nya ini, maka Yesus memanggil kita untuk mengikuti pola pelayanan-Nya, yaitu dipanggil untuk melayani. Kita dipanggil untuk hidup dalam citra kehambaan. Sama seperti Yesus senantiasa melayani orang lain, demikian juga kita dipanggil untuk tugas-tugas yang paling rendah (bnd. Yoh 13:1-17).

Pada tahun 1986 hal ini diakui oleh konferensi uskup-uskup dari Gereja Katolik Roma dalam konferensi yang bernama To the Ends of the Earth (sampai ke ujung bumi). Menurut konferensi ini, “Dalam bentuk Firman menjadi manusia yang diam di antara kita (Yoh 1:14), maka Dia membawa hidup Allah sendiri ditengah-tengah kita. Sebelum Firman (Kristus) kembali kepada Bapa-Nya Dia menguatkan jemaat-Nya dengan Roh-Nya dan berkata, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Pengutusan ini berisi amanat bagi gereja untuk melanjutkan rencana penciptaan dan karya penyelamatan Allah melalui pelayanan konkrit yang membebaskan, membangun dan menghidupkan.

 

5. BERTEOLOGI DALAM KONTEKS DIAKONIA

Berteologi dalam konteks diakonia harus memperhatikan dua titik-tolak yang menentukannya. Pertama, diakonia dapat bertitik-tolak dari situasi dan kondisi manusia dan masyarakat. Kedua, diakonia bertitik-tolak dari norma-norma Alkitab, khususnya norma-norma Injil Yesus Kristus. Dalam hal yang pertama ia mengambil titik-tolaknya dari situasi “di sini dan kini” (Lat. hic et nunc), dalam hal yang kedua dari “kepenuhan waktu”, yakni dari saat Allah menyatakan kehendak-Nya sepenuh-penuhnya di dalam Yesus Kristus.

Diakonia yang bertitik-tolak dari situasi dan kondisi dapat disebut “diakonia dari bawah”, karena bertitik-tolak dari keadaan nyata di ”bumi”, sedangkan diakonia yang bertolak dari norma-norma transenden yang dinyatakan Allah sepenuhnya dalam Yesus Kristus dapat disebut diakonia dari atas, ” karena bertolak dari “sorga”, namun tak dapat dipisahkan walaupun punya konteks yang berbeda. Di bawah ini adalah struktur berteologi dalam konteks diakonia:

5.1. Diakonia dari Bawah

a)    Analisa situasi di mana kita berada atau kebutuhan konteks.

b)   Perwujudan dan realisasi konkrit Injil Yesus Kristus sebagai norma aktif dalam situasi yang telah di analisa dengan baik.

5.2. Diakonia dari Atas

a)    Allah.

b)   Penyataan (dari hakekat dan kehendak Allah).

c)    Yesus Kristus (dan Roh Kudus).

d)   Pembenaran (dan pengudusan), dan

e)    Etos Kristen: apa yang seharusnya dilakukan gereja sebagai realisasi dari karya Allah dalam konteks masa kini.

5.3. Korelasi Diakonia dari Bawah dan Diakonia dari Atas

Apabila analisa situasi harus menjadi seluas mungkin dengan mempertimbangkan bahwa Allah merupakan latar belakang dari oknum dan pekerjaan Yesus Kristus, maka hubungan timbal-balik yang menjadi dasar berteologi diakonia dalam konteks dapat digambarkan sebagai berikut:

a)    Analisa situasi

b)   Situasi masa kini membutuhkan perspektif lokal, regional, nasional dan mondial (Lat. mundus, yang berarti: alam semesta, dunia, bumi).

c)    Ajaran dan kehidupan Yesus Kristus merupakan norma situasi masa kini untuk melaksanakan misi gereja.

d)   Penyataan dari Allah dalam ajaran dan kehidupan Yesus Kristus merupakan norma bagi pelaksanaan diakonia gereja di masa kini.

 

Gambaran tentang berteologi dalam konteks diakonia seperti struktur berpikir di atas, menyatakan bahwa tugas diakonia gereja adalah prinsip nilai universal yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh karya keselamatan Allah bagi manusia, dengan demikian diakonia adalah fungsi pelayanan gereja yang bersumber pada misi Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus.  

 

6. BERTEOLOGI DALAM KONTEKS DIAKONIA GKI

Secara skematis upaya berteologi dalam konteks diakonia Gereja Kristen Injil Di Tanah Papua dapat digambarkan ke dalam bentuk-bentuk perspektif yang punya kesinambungan dan bersifat holistik seperti di bawah ini:

 

Pertama: MISI TRINITAS: Misi Allah – Penyataan – Misi Kristus – Misi Roh Kudus – Misi Gereja

Kedua:     GEREJA KRISTEN INJILI DI TANAH PAPUA – Misi Gereja dalam eksistensi sebagai persekutuan/institusi – Manusia dan Dunia – Menuju Kegenapan/Kedatangan Kristus yang kedua. Aktualisasinya melalui pengajaran, khotbah, penggembalaan, pemuridan, dan seterusnya

Ketiga:     GEREJA KRISTEN INJILI DI TANAH PAPUA – Misi  Gereja dalam eksistensi institusional. Aktualisasinya ada Jemaat – Klasis – Sinode. Ada urusan – komisi – departemen (PI, PJ, Diakonia, Pendidikan dan Litbang). Ada sidang jemaat – sidang klasis – sidang sinode. Ada raker klasis – raker sinode. Ada aktivitas oganisasi, administrasi, dan ada konferensi, konsultasi, rapat koordinasi, pelatihan                 

Keempat: GEREJA KRISTEN INJILI DI TANAH PAPUA – Misi Gereja dalam pokok-pokok program atau program-program kerja yang konkrit dan berlangsung di aras jemaat melalui wadah urusan-urusan dan unsur-unsur: PAR, PAM, PW, PKB. Pada aras klasis: melalui komisi-komisi dan wadah unsur-unsur di tingkat klasis, dan aras sinode: melalui departemen-departemen, Litbang, ketetapan sidang Sinode  (peraturan-peraturan, pedoman)

Kelima:    GEREJA KRISTEN INJILI DI TANAH PAPUA – Misi Gereja dalam menyikapi dinamika dan perubahan sosial, budaya, politik, hukum, advokasi, ekonomi, lingkungan hidup, HAM, kemiskinan, diskriminasi ketidakadilan, pemberdayaan warga gereja sebagai individu maupun keluarga, kesehatan, dan membangun kemitraan baik ke dalam maupun keluar

Keenam:  DIAKONIA yang hidup adalah tanda dari gereja yang hidup dan misioner. Ia akan sungguh-sungguh hidup dan misioner, apabila dilakukan sebagai sebuah “gerakan” (movement) pada aras jemaat, klasis dan sinode. Tetapi juga diperlukan kepekaan dan komitmen kita semua sebagai “pelaku” diakonia.

Ketujuh:   Hanya dengan restrukturisasi paham dan tempat diakonia dalam keorganisasian gereja, maka gereja secara nyata menjadi saksi yang hidup di dunia ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 


Artikel ini ditulis pada : 03 Februari 2014 | Oleh : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Injil Di Hari :

Sumber Menambahkan Alkitab Di Blog - BaseCamp Setiakawan Follow us: @valenthuba on Twitter | vhuba on Facebook

Pengujung :

Link Internasional :

Twitter RESMI :

Galeri Foto

Kumpulan Foto Kegiatan GKI Di Tanah Papua

Galeri Video

Kumpulan Video Kegiatan GKI Di Tanah Papua

PROFIL BPAM SINODE GKI DI TANAH PAPUA 2017-2022

PESAN PASKAH

GKI DI TANAH PAPUA 2017 ( PHOTO DOC )