Selamat Datang di Website Resmi Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua. Alamat:Jln.Argapura 9,Kotak Pos 1160,Jayapura 99222,Papua, Fax: (0967)533192 informasi mail : wirewit.gkiditanahpapua@gmail.com / hp : (+62) 0821-9930-1804

TEOLOGI DAN PENDIDIKAN TEOLOGI GKI DI TANAH PAPUA

theologi dan pendidikan theologiTEOLOGI DAN PENDIDIKAN TEOLOGI GKI DI TANAH PAPUA

MENGEMBANGKAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KEPENDETAAN*)

Pdt. Dr. Marthinus Theodorus Mawene

I. PENDAHULUAN

Berbicara tentang Teologi dan Pendidikan Teologi berarti berbicara tentang Teologi sebagai ilmu yang menjadi konten pengetahuan yang diajarkan dalam suatu system pendidikan dan Lembaga Pendidikan yang menyelenggaran proses pendidikan teologi itu. Dalam hubungan dengan judul di atas, maka Lembaga Pendidikan itu adalah Lembaga Pendidikan Teologi yang diselenggarakan GKI di Tanah Papua. Dalam kaitan itu terdapat sekurang-kurangnya 4 (empat) jenis lembaga pendidikan teologi yang diselenggarakan oleh atau dipayungi oleh GKI di Tanah Papua. Keempat jenis Lembaga Pendidikan Teologi itu adalah:

  1. Sekolah Tinggi Teologi GKI “I.S. Kijne” di Jayapura (tingkat Perguruan Tinggi);
  2. Sekolah Pendidikan Guru Jemaat GKI (SPGJ-GKI) “Lakhairoi” di Manokwari (Pendidikan Teologi Menengah – setingkat SLTA);
  3. Sekolah-sekolah Alkitab (sejenis Kursus Alkitab atau Bible School);
  4. Sekolah Alkitab Malam GKI (SAM-GKI) untuk warga Jemaat (semacam Pendidikan/Kursus Alkitab bagi Kaum Awam).

Oleh karena surat BPAm Sinode yang meminta saya memberikan ceramah mengenai pokok ini tiba terlambat di tangan saya setelah naskah ceramah ini disusun, apalagi surat tersebut sama sekali tidak dilengkapi dengan TOR (Term of Reference) yang menjelaskan mengenai apa yang diharapkan BPAm untuk dibahas dalam ceramah ini, maka berdasarkan  saran dan usul Dewan Dosen saya mencoba menyusun naskah ceramah ini. Dengan demikian materi ceramah ini tidak memperlakuan semua jenis lembaga pendidikan teologi dalam GKI di atas dalam satu system yang terpadu.

Walau pun demikian saya teringat pada ide tahun 1960 di mana Panitia Pendidikan Teologi yang dibentuk dalam Synode Umum ke II Gereja Kristen Injili di Nederlands Nieuw Guinea yang berlangsung di Manokwari menerima gagasan Dr. J.D. Plenter yang diundang khusus oleh Pimpinan Synode Umum GKI saat itu untuk meneliti dan memberikan usulan bagi penyelenggaran dan pengembangan Pendidikan Teologi dalam GKI di Tanah Papua. Salah satu usul penting beliau yang kemudian mendominasi percakapan-percakapan mengenai pendidikan teologi dalam GKI di Tanah Papua adalah gagasanya (usulnya) untuk menyatukan seluruh Lembaga Pendidikan Teologi milik GKI ke dalam suatu Institute Theologia.[1] Gagasan ini masih menjadi pembicaraan hangat dalam Sinode Umum ke-V tahun 1968. Sinode Umum ini juga menetapkan ancang-ancang waktu pelaksanaan keputusan ini sebagai berikut. Bahwa:

”Dalam tahun 1969-1972 Departemen Pendidikan Theologia sudah harus melakukan langkah-langkah persiapan ke arah integrasi pendidikan theologia tersebut ke dalam satu institut.”[2]

 

Namun sampai pada pada akhir tahun 1972 gagasan tersebut tidak dapat direalisasikan dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya gagasan menyatukan semua lembaga pendidikan teologi GKI ini dalam satu Institut Theologia ini tidak lagi dibicarakan, alias ditinggalkan.

Walaupun demikian Judul di atas (yang ditentukan oleh BPAm Sinode dan Panitia Pelaksana Konsultasi Teologi GKI di Tanah Papua ini) menugaskan kita untuk mendiskusikan Teologi model apa yang akan menjadi muatan ajar dalam Lembaga Pendidikan Teologi GKI “I.S. Kijne” ini dan bagaimana proses penyelenggaraan Pendidikan Teologi dalam Lembaga Pendidikan Teologi GKI “I. S. Kijne” tersebut berlangsung.

Untuk menjawab persoalan ini perlu diingat bahwa tidak mudah untuk mendesain kembali Kurikulum pendidikan teologi kita sekarang ini. Dalam Konsultasi Pendikan Teologi di Indonesia yang dilakukan PERSETIA di Desa Kaliurang Yogyakarta, pada tahun 1994 sudah dikemukakan dan disadari pentingnya perubahan paradigma ilmu teologi bagi pembaharuan Kurikulum Pendidikan Teologi di Indonesia yang berbasis Kompetensi dan Profil Kompetensi yang kontekstual. Namun dalam penerapannya hampir semua Perguruan Tinggi Teologi di Indonesia tidak berhasil mendisaian ulang kurikulumnya sesuai dengan paradigma baru berteologi yang dianjurkan PERSETIA. Semua Perguruan Tinggi Teologi tersebut ternyata melakukan tambal-sulam atas kurikulum pendidikan teologi yang klasik seperti yang sudah ada dalam system pendidikan teologi yang konvensional selama ini. Saya sendiri, sebagai salah seorang peserta Konsultasi Nasional Pendidikan Teologi tahun 1994 di atas, mengalami kesulitan untuk melakukan revisi kurikulum STT GKI “I.S. Kijne” Jayapura berdasarkan hasil Konsultasi Nasional di atas, walaupun dalam Kurikul Tahun 1998 yang disusun STT GKI berdasarkan hasil Konsultasi Nasional tersebut telah memperlihatkan adanya kemajuan di bidang disain kurikulum.

Dalam rangka persiapan Akredetasi Nasional atas STT GKI di tahun ini, Team Penyususn Borang-borang Akredetasi yang diangkat oleh Ketua STT GKI “I.S. Kijne” telah merumuskan dan menetapkan Visi-Misi STT GKI “I. S. Kijne” sbb:

1.1 VISI MENJADI LEMBAGA PENDIDIKAN TEOLOGI YANG UNGGUL DALAM PENGEMBANGAN TEOLOGI KONTEKSTUAL DI PAPUA.

 

1.2 MISI

  1. Membangun kehidupan manusia yang berintegritas spiritual dan moral dalam bergereja, bermasyarakat dan berbangsa.
  2. Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berbasis kontekstual agar peserta didik menjadi lulusan yang berkemampuan akademik dan vokasi serta berkepribadian.
  3. Membina, mengembangkan, menyebarluaskan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan teologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

1.3 POLA ILMIAH POKOK

Untuk mencapai semua itu, maka STT GKI Izaak Samuel Kijne Jayapura telah menetapkan Pola Ilmiah Pokok penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Teologi adalah TEOLOGI KONTEKSTUAL, yaitu pendekatan berteologi yang bersumber pada Alkitab dan kajian reflektif atas berbagai aspek kehidupan.

 

Tim Assesor dari Badan Akredetasi Nasional Perguruan Tinggi di Indonesia (BAN-PT) yang bertugas mengasesment STT GKI “I.S.Kijne” baru-baru ini mengomentari ketidakkonsistenan antara Visi STT GKI, terutama Pola Ilmiah Pokok, dengan disiplin-disiplin Ilmu Teologi yang menjadi muatan kurikulum STT GKI yang ada sekarang ini (Kurikulum 2008). Menurut mereka nama-nama dan muatan dari mata-mata kuliah yang disajikan, masih mengacu pada Ensikopedi lama ilmu Teologi dan tidak/ belum mencerminkan Teologi Kontekstual yang menjadi Visi dan Pola Ilmiah Pokok STT GKI “I. S. Kijne” Jayapura. Menurut hemat saya hal semacam ini juga umumnya dialami oleh hampir semua Perguruan Tinggi Teologi di Indonesia.

 

II.  MENUJU REVISI KURIKULUM 2008

Berdasarkan kritik dan rekomendasi Tim Asesor BAN-PT mengenai Kurikulum S1 Teologi STT GKI “I.S.Kijne” (Kurikulum 2008) maka Dewan Dosen sudah sepakat menjadwalkan untuk membahas Revisi Kurikulum tahun 2008 dalam Semester Genap Tahun Akademi 2013-2014 (semester depan).

Menyongsong Revisi Kurikulum itu saya teringat untuk memberi perhatian pada pandangan dan pikiran Pdt. Judo Poerwowidagdo,Ph.D. yang pernah menjabat sebagai Executive Secretary untuk Ecumenical Theological Education: Program Unit I on Unity and Research dari Dewan Gereja-gereja se Dunia, di Geneva, dalam tahun 1990-an. Dalam bukunya mengenai Tantang Jawab Pendidikan Teologi Menjelang Abad ke-21[3] Pdt. Yudo memberikan suatu gambaran paradigmatis tentang Pendidikan Teologi di Abad 21 dalam perbandingan dengan pendidikan teologi gaya lama,  yang harus diperhatikan oleh kita semua dalam merevisi Kurikulum Pendidikan Teologi kita. Gambaran paradigmatis itu adalah sebagai berikut:

Paradigma Lama

Paradigma Baru

* Pendidikan bagi pelayanan-tahbisan. * Pendidikan bagi pemimpin-pemimpin dalam pelayanan kristiani, tahbisan maupun tanpa-tahbisan.
* Di dominir oleh pria. * Inklusif pria-wanita seimbang.
* Kurikulum standar dan baku. * Kurikulum yang fleksibel, sistem modul.
* Berbasis kampus dan ruang kuliah. * Berbasis kampus & jemaat lokal dan ma-syarakat setempat.
* Proses belajar dari atas ke bawah. * Proses belajar-mengajar berkelompok.
* Orientasi akademik, intelektual & ilmiah. * Academic exelence yang meliputi praxis berteologi yang dinamis.
* Pendekatan isi, pengetahuan. * Pendekatan metodologis dan kerampilan.
* Kebanyakan kuliah-kuliah bersifat wajib. * Kebanyakan kuliahbersifat pilihan.
* Orientasi dogmatis konvensional. * Orientasi ekumenis-antardenominasi.
* Memberi dorongan untuk tunduk dan setia kepada ajaran dan tradisi gereja. * Memberi dorongan menerima ajaran gereja secara kritis refleksi eksistensial dan inovasi kreatif.
* Orientasi Alkitabiah-historis. * Orientasi Alkitab-kontekstual.
* Orientasi metafisis-ontologis. * Orientasi eksistensial-fenomenologis.
* Analisis Alkitabiah – kritik teks. * Analisis sosio-anthropologis.

 

Moga-moga gambaran paradigma baru pendidikan teologi yang dikemukan oleh Pdt. Judo di atas dapat menjadi konsumsi kita dalam merevisi kurikulum 2008 yang tengah berlaku kini.

 

III.        MENGINTEGRASIKAN PROGRAM VIKARIAAT G.K.I. DI TANAH PAPUA KE DALAM PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KEPENDETAAN DI STT GKI “I.S. KIJNE” JAYAPURA.

Dalam rangka revisi Kurikulum 2008 di atas dan sambil mempertimbangkan usul saran dalam Diskusi Panel Menyongsong Dies Natalis ke-57 STT GKI “I.S.Kijne” di Jayapura, yang berlangsung dari tanggal 18-20 September 2011, antara lain saran dan usul yang disampaikan oleh Pdt. J. Krey-Mirino, STh, yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua BPAm Sinode GKI (periode 2009-2011) dan Pdt. Hiskia Rollo, STh. sebagai Sekretaris BPAm Sinode periode 2005-2011). Kedua pejabat Sinode itu dalam prasarannya pada Diskusi Panel tersebut di atas berulangkali menekankan pentingnya STT GKI  berperan sebagai “Sekolah Pendeta” seperti dahulu dan mengharapkan agar  STT GKI benar-benar kembali memenuhi fungsi semulanya sebagai suatu Sekolah Pendeta yang menghasilkan Pendeta.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu maka dalam rangka perubahan / revisi Kurikulum 2008 yang ada sekarang, STT GKI sepakat membuka Program Pendidikan (Prodi) Professi Kependetaan (P3K) sebagaimana yang kami kemukakan di bawah ini. Bila Prodi Profesi Kependetaan ini disetujui dan diterima oleh Sidang Sinode VII GKI di Tanah Papua tahun 2016 yang akan datang di Warsai (Kabupaten Raja Ampat), maka itu berarti mulai tahun 2016 Sistem Vikariaat yang ada sekarang akan diintregrasikan ke dalam Prodi Profesi Kependetaan di STT GKI “I.S. Kijne”.

Untuk seterusnya saya mempersilahkan seluruh peserta Konsultasi Teologi saat ini menyimak  dan memberikan masukan-masukan kritis atas presentasi STT GKI “I.S. Kijne” tentang konsep atau gagasan Program Pendidikan (Prodi) Profesi Kependetaan sebagai berikut.

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KEPENDETAAN (P3K)

Latar Belakang

 

Sekolah Tinggi Teologi GKI “I. S. Kijne” di Jayapura dalam dua dasawarsa pertama sejarahnya (1954-1974) merupakan suatu pendidikan profesi kependetaan yang bertujuan menghasilkan tenaga Pendeta bagi Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Kompetensi Pendidikan Teologi di Sekolah Theologia di Serui (1954-1960), sesuai dengan tujuan didirikannya, adalah mendidik dan menghasilkan tenaga Pendeta.[4] Karena itu sekolah ini pada mulanya dikenal masyarakat sebagai Sekolah Pendeta.

Sejak tahun 1974 Sekolah Teologia ini berubah nama dan sifat menjadi Sekolah Tinggi Teologi dan dengan demikian tujuan kompetensi pendidikannya pun ikut mengalami perubahan dari “menghasilkan Pendeta” menjadi menghasilkan “calon Pelayan Firman yang matang berteologi, penuh pengabdian, dan cakap melayani di dalam Gereja.[5] Jadi sejak tahun 1974 itu STT GKI hanya melakukan pendidikan teologi yang bertujuan mempersiapkan dan memperlengkapi warga Gereja di bidang ilmu teologi sehingga mereka  dilengkapi untuk menjadi “calon” Pendeta yang memiliki kematangan berteologi, semangat mengabdi yang tak diragukan serta cakap melayani di dalam Gereja. Dengan demikian tanggung jawab mempersiapkan Pendeta bagi GKI di Tanah Papua menjadi tanggung jawab Gereja (Sinode-Klasis-klasis-Majelis-majelis Jemaat dan para Pendeta GKI).

Sekalipun tujuan kompetensi pendidikan Teologi GKI ini telah berubah tetapi masyarakat gerejawi tetap memandang STT GKI “I.S. Kijne” sebagai Sekolah Pendeta. Dari pengalaman dan hasil evaluasi sepintas atas kinerja para alumni STT GKI “I.S. Kijne” di lapangan, baik yang dilakukan (dikatakan) pimpinan Gereja dalam berbagai kesempatan serta komentar dan tanggapan tidak resmi warga Jemaat GKI di berbagai kesempatan, dapat disimpulkan bahwa aspek kematangan berteologi dan semangat pengabdian para alumni STT GKI cukup tinggi dan tidak diragukan lagi. Akan tetapi mengenai hal “kecakapan melayani dalam Gereja” seringkali terdengar kritik dari pimpinan Gereja maupun dari warga Jemaat.

“Salah satu contoh kritikan itu datang dari salah seorang alumni STT GKI angkatan tahun 1975-1990 yang menilai para alumni STT GKI yang lebih belakangan (yang tamat setelah tahun 2000), sebagai alumni-alumni yang terkadang tidak trampil dalam mengolah karya pelayanan di dalam Jemaat. Mengutip kata-kata alumni yang lebih senior ini bahwa “adik-adik alumni yang belakangan ini bergabung ke dalam pelayanan seringkali tidak tahu membuat dan melayani Liturgi Pelayanan Sakramen, tidak trampil melakukan pelayanan pastoral, melayani Katekisasi dan peneguhan Sidi Jemaat, dan sering menolak melakukan peneguhan dan pemberkatan nikah.” Hal ini dikemukan oleh alumni yang senior tersebut dalam acara Temu Raya Alumni STT GKI tanggal 18-20 September 2013 yang lalu.

 

Demikian juga jikalau kinerja para alumni STT GKI “I.S. Kijne” di lapangan dinilai buruk atau tidak memuaskan oleh pimpinan GKI (Sinode dan Klasis-klasis) maka yang selalu dipersalahkan adalah STT GKI “I.S. Kijne” yang sudah meluluskan mereka. Jadi STT GKI “I.S. Kijne” seringkali dikritik oleh masyarakat gerejawi atas kinerja pelayanan yang buruk atau yang kurang memuaskan yang diperlihatkan oleh para alumni STT GKI “I.S. Kijne” Jayapura.

Kritik seperti itu juga bergema dalam ceramah yang disampaikan oleh dua orang Pejabat Sinode GKI dalam acara Diskusi Panel menyongsong Dies Natalis ke-57 STT GKI “I.S.Kijne” di Jayapura, yang berlangsung dari tanggal 18-20 September 2011, yang disampaikan oleh Ketua BPAm Sinode GKI periode 2009-2011(Pdt. J. Krey-Mirino, STh) dan Sekretaris BPAm Sinode periode 2005-2011 (Pdt. Hiskia Rollo, STh.). Dalam ceramah-ceramah tersebut kedua pejabat Sinode tersebut  mereka berulangkali menekankan pentingnya STT GKI  berperan sebagai “Sekolah Pendeta” seperti dahulu dan mengharapkan STT GKI benar-benar kembali memenuhi fungsi semulanya sebagai suatu Sekolah Pendeta yang menghasilkan Pendeta.

Menyikapi berbagai kritikan di atas STT GKI “I.S. Kijne” seringkali berkilah bahwa soal buruknya atau kurang memuaskannya kinerja pelayanan para alumni di lapangan bukan lagi semata-mata menjadi tanggung jawab STT GKI “I.S. Kijne” sendiri, melainkan menjadi tanggung jawab Gereja juga (d.h.i. tanggung jawab Sinode, Klasis-klasis dan Jemaat-jemaat, serta para Pendeta Mentor) yang telah memendetakan mereka. Persoalan yang dilihat STT GKI “I.S. Kijne”  ialah proses pelaksanaan masa vikaris (mulai dari proses penjaringan calon, proses pembekalan vikaris, proses pelaksanaan tugas-tugas vikaris, dan proses evaluasi keberhasilan vikaris) yang tidak terencanakan dengan baik dan tidak berlangsung sebagaimana mestinya sesuai Peraturan Vikaris. Antara lain tidak konsekuennya lembaga-lembaga GKI terkait dalam melaksanakan Peraturan Vikaris dengan konsekuen. Sebagai contoh: seringkali seorang Vikaris ditempatkan jauh dari Jemaat yang dilayani mentornya (diluar, pengawasan langsung mentor) juga penentuan Mentor yang tidak memenuhi persyaratan mentorat (seringkali Mentor mempunyai reputasi pelayanan dan perilaku etis yang buruk). Di samping terjadi beberapa orang vikaris yang perilaku moral etiknya bertentangan dengan Peraturan Pemggembalaan GKI, tidak dikenakan status tergembala melainkan malah diloloskan untuk menjadi Pendeta GKI di Tanah Papua.  Jadi proses vikariatan yang tidak maksimal dan konsekuen bagi seorang vikaris ikut menghasilkan kinerja pelayanan yang buruk di kalangan para Pendeta GKI yang adalah alumni STT GKI “I.S. Kijne”.

Berdasarkan semua masukan dan hasil evaluasi kritis itu maka para Dosen STT GKI “I.S. Kijne” berpikir untuk mengembangkan suatu kurikulum Pendidikan Profesi Kependetaan di Kampus STT GKI “I.S. Kijne” setelah pendidikan keilmuan Teologi (S1,S2, S3). Kurikulum Pendidikan Profesi ini akan mengintegrasikan system dan masa vikariaat ke dalamnya. Dengan perkataan lain, jika Program Pendidikan Profesi Kependetaan di STT GKI “I.S. Kijne” ini disetujui oleh Gereja (d.h.i oleh Sidang Sinode) maka untuk selanjutnya masa vikariat tidak dilaksanakan tersendiri melainkan terintegrasi ke dalam sistem Pendidikan Profesi Kependetaan ini. Dengan demikian STT GKI “I.S. Kijne” tidak lagi menghasilkan “calon-calon Pendeta” melainkan lagsung menghasilkan “Pendeta”. Di sini STT GKI kembali berfungsi sebagai “Sekolah Pendeta” atau “Sekolah Tinggi Pendeta”.

Hal ini tidak asing lagi dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Dewasa ini pendidikan profesi merupakan suatu tuntutan dalam dunia akademis, terutama jikalau tamatan Perguruan Tinggi yang bersangkutan diharapkan akan mengembangkan profesi khusus di bidang keilmuan yang dikekuninya[6] bagi kepentingan masyarakat luas dan kemanusiaan secara umum. Misalnya dalam sistem pendidikan Kedokteran terdapat pula Program Pendidikan Profesi Dokter di mana seorang lulusan Fakultas Kedokteran yang ingin menjadi Dokter yang profesional harus menjalani program Co-Asisten Dokter dalam jangka waktu yang ditentukan, sebelum yang bersangkutan dinyatakan lulus dan dilantik sebagai Dokter. Di kalangan Kementerian Agama Republik Indonesia pun, c.q. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, dikenal adanya Prodi Teologi Kependetaan yang memberikan pendidikan teologi bagi para calon Pendeta.[7] Dalam pikiran Pemerintah c.q. Kementerian Agama, pendidikan Teologi Kependetaan itu akan menghasilkan tenaga Pendeta yang siap pakai.

STT GKI “I.S. Kijne” juga sebagai suatu perguruan tinggi teologi, yang tamatannya akan melayani dalam masyarakat agama (kegerejaan) secara profesional, terpanggil juga untuk mengembangkan pendidikan teologi sampai pada tingkat professional sehingga para tamatanya dapat memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat. Berdasarkan semua hal itu maka STT GKI “I.S. Kijne” dengan ini menyusun suatu Kurikulum Pendidikan Teologi Profesi untuk ditawarkan kepada GKI di Tanah Papua (melalui Sidang Sinode) untuk diberlakukan. Terkait dengan pengembangan Pendidikan Profesi ini maka akan disusun juga suatu Masterplan Pengembangan Kampus guna mendukung penyelenggaraan Pendidikan Profesi dimaksud.

1.1  Nama Program

Nama program ini adalah Program Pendidikan (Prodi) Profesi Kependetaan, yakni pendidikan khusus yang bertujuan mempersiapkan calon-calon Pendeta bagi Gereja Kristen Injili di Tanah Papua.

1.2 Visi  Prodi  Profesi  Kependetaan (PPK)

Menjadi Program Studi Yang Mempersiapkan Tenaga Pendeta Yang Profesioanal bagi Gereja Kristen Injili  di Tanah Papua.

1.3  Misi Prodi profesi Kependetaan (PPK)

  1. Melatih dan mempersiapkan SDM yang memiliki kualifikasi dan profesionalisme di bidang kependetaan untuk melayani dan membina kehidupan rohani Warga Gereja dengan baik dan bertanggungjawab.
  2. Menyelenggarakan proses pembelajaran dan pelatihan Profesi Kependetaan yang berbasis konteks (kebutuhan Jemaat-jemaat Kristen) di Tanah Papua.;
  3. Melaksanakan penelitian dalam rangka pengembangan Teologi Kontekstual, khususnya dalam rangka pengembangan ilmu profesi kependetaan;
  4. Melaksanakan pengabdian kepada Gereja dan Masyarakat dalam rangka penerapan Ilmu Kependetaan secara profesional;
  5. Mengolah administrasi Gereja yang baik dan bermutu.

 

1.4  Profil dan Standard Kompetensi Program Pendidikan Profesi Kependetaan (P3K)

Menghasilkan SDM Kependetaan yang memiliki Standard dan Profil Kompetensi  sebagai berikut:

  1. Profesional di bidang Kependetaan yang ditunjang oleh kemampuan mengaplikasikannya ilmu teologi Kependetaan secara professional dalam Gereja dan masyarakat;
  2. Memiliki kemampuan melakukan penelitian terutama di bidang agama (Gereja) dan masyarakat;
  3. Memiliki komitmen yang kuat untuk mengabdi pada Tuhan dalam Gereja dan masyarakat.

 

1.5 Standard Kompetensi Program Studi S1 Profesi Kependetaan (PPK)

1.   Memiliki penguasaan yang memadai dan professional atas ilmu Kependetaan antara lain Teologi Alkitab, Eklesiologi (Ajaran Gereja, Etika Kristen, Pastoralia, PAK, Kathekisasi, Pembinaan dan Pembangunan Jemaat, Pekabaran Injil, Oikumenika, Liturgika, Homiletika, Nyanyian Gereja, Kepemimpinan Gereja, Administrasi-Gereja, dan Menejemen Gereja dan Keuangan Gereja).

2.   Memiliki komitmen dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu-ilmu Kependetaan;

3.   Memiliki kesadaran untuk mewujudnyatakan transformasi spirirtual secara terus-menerus;

4.   Mampu berteologi secara kontekstual dan mengaplikasikannya dalam masyarakat dan gereja.

 

1.6  Struktur Kurikulum Prodi Profesi  Kependetaan (PPK)

Struktur Prodi Profesi Kependetaan adalah sebagai berikut:

 

 

  1. 1.      Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK);
  • Etika Profesi Kependetaan
  • Tanggung jawab Etis Pelayan Jemaat
  • Etika berorganisasi

 

  1. 2.      Kelompok Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK);
  • Teologi Alkitab.
  • Ajaran Gereja
  • Gereja dan Masyarakat;
  • Gereja dan Aliran-aliran keagamaan.
  • Oikumenitas

 

  1. 3.      Mata Kuliah Berkarya (MKB);
  • Berkhotbah;
  • Mengajar Agama Kristen
  • Menyelenggarakan Sekolah Minggu dan Katekisasi
  • Memberitakan Injil;
  • Membangun dan Membina Jemaat
  • Pelayanan Kategorial (Pemuda, Kaum Bapak, Kaum Ibu, Kelompok-kelompok Profesi).
  • Memimpin Ibadah-ibada Jemaat (trampil berliturgi dan menguasai Nyanyian-nyanyian Ibadah)

 

  1. 4.      Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB);
  • Pelayanan Penggembalaan Jemaat dan Masyarakat Kristen.
  • Dialog Antar Agama
  • Penatalayanan Gereja.
  • Tata Gereja dan Peraturan-peraturan Gerejawi
  • Kepemimpinan dan Menejemen Gereja.
  • Administrasi Gereja (Administrasi Jemaat dan Administrasi Keuangan Gereja).
    • Memimpin rapat-rapat Gereja.
    • Memimpin dan melayani Jemaat

 

  1. 5.      Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).
  • Praktek Lapangan (masa kevikariatan) :  9 bulan
  • Seminar  Laporan Praktek Lapangan (Laporan Kevikariatan) : 2 minggu

 

6.   Matakuliah-matakuliah Yang disajikan

 

No.Urt.

 

NAMA MATAKULIAH

Jumlah Jam

Lamanya Pengajaran

1.

Etika Profesi Kependetaan / Etika Pelayanan

16 jam

8 Minggu

2.

Tanggung jawab Etis Pelayan Jemaat

16 jam

8 Minggu

3.

Etika berorganisasi

16 jam

8 Minggu

4.

Teologi Alkitab.

16 jam

8 Minggu

5.

Ajaran Gereja

16 jam

8 Minggu

6.

Gereja dan Masyarakat

16 jam

8 Minggu

7.

Oikumenitas

16 jam

8 Minggu

8.

Berkhotbah;

32 jam

16 Minggu

9.

Memimpin Ibadah-ibada Jemaat (trampil berliturgi dan menguasai Nyanyian-nyanyian Ibadah)

16 jam

8 Minggu

10.

Mengajar Agama Kristen

16 jam

8 Minggu

11.

Menyelenggarakan Sekolah Minggu dan Katekisasi

16 jam

8 Minggu

12.

Memberitakan Injil;

16 jam

8 Minggu

13.

Membangun dan Membina Jemaat

16 jam

8 Minggu

14.

Pelayanan Kategorial Gereja (Pemuda, Kaum Bapak, Kaum Ibu, Kelompok-kelompok Profesi).

16 jam

8 Minggu

15.

Pelayanan Penggembalaan Jemaat dan Penggembalaan Masyarakat Kristen.

16 jam

8 Minggu

16.

Dialog Antar Agama

16 jam

8 Minggu

17.

Penatalayanan Gereja.

16 jam

8 Minggu

18.

Tata Gereja dan Peraturan-peraturan Gerejawi.

32 jam

16 Minggu

19.

Kepemimpinan dan Menejemen Gereja.

16 jam

8 Minggu

20.

Administrasi Gereja (Administrasi Jemaat .

16 jam

8 Minggu

21.

Administrasi Keuangan Gereja).

16 jam

8 Minggu

22.

Memimpin rapat-rapat Gereja.

16 jam

8 Minggu

23.

Memimpin dan melayani Jemaat

16 jam

8 Minggu

24.

Praktek Lapangan (masa kevikariatan)

972 jam

36 Minggu

25.

Seminar  Laporan Praktek Lapangan (Laporan Praktek Kevikariatan)

64 jam

2 Minggu

1404 jam

214 Minggu

 

2.   Cara dan Sistem Penyelenggaraan PPK

Program Studi Profesi Kependetaan ini diselenggarakan bagi para lulusan Prodi S1 Teologi yang terpanggil dan berkemauan menjadi Pendeta. Itu berarti Prodi Profesi Kependetaan ini dilalukan di atas basis pengetahuan teologia di atas Sratum 1 Teologi atau S2 Teologi ataupun S3 Teologia. Pengetahuan yang disajikan dalam Prodi ini merupakan (1) pendalaman teoritis ilmu Teologi dalam kerangka praktis berjemaat; (2) Latihan-latihan dan bimbingan praktis untuk menjadi seorang Pendeta Jemaat. Pengetahuan praktis yang diberikan menekankan pada profesionalisme dalam hal melayani sebagai Pendeta Jemaat.

Oleh karena itu kegiatan perkuliahan akan dilakukan dalam dua tahap dengan cara sebagai berikut:

  • Pada Tahap Pertama, 1 semester lamanya,  mahasiswa prodi ini akan menerima pengetahuan teoritis yang bersifat aplikasi dari ilmu teologi yang sudah diperoleh ketika masih menjadi mahasiswa Stratum 1 Teologi, dengan jumlah jam belajar sebanyak 90 jam pelajaran.
  • Pada Tahap Kedua, para mahasiswa akan melakukan kegiatan Praktek Kevikariatan (PKevik) selama  9 (sembilan) bulan lamanya (dari Desember s/d Agustus, di mana mahasiswa yang bersangkutan melakukan pekerjaan  Praktek Kevikariatan di Jemaat-jemaat GKI di Tanah Papua di bawah pengawasan para Dosen Pembimbing, Pendeta Mentor, Badan-badan Pekerja Klasis, dan Majelis-Majelis Jemaat GKI se Tanah Papua. Praktek Kevikariatan ini setara dengan masa vikariat (versi lama) selama kurang lebih satu tahun.
  • Dalam dua bulan terakhir (bulan ke-10 dan ke-11) setelah mahasiswa ditarik kembali ke Kampus Dewan Dosen bersama-sama Badan Pekerja Am Sinode (atau suatu Badan Kepegawaian GKI di Tanah Papua yang ditunjuk oleh BPAm Sinode) akan melakukan kegiatan Seminar Hasil Praktek Kevikariatan, sambil mempertim-bangkan Laporan-laporan penilaian yang masuk Dari Klasis-klasis dan Majelis-majelis Jemaat serta dari Pendeta-pendeta Mentor yang bersangkutan tempat mahasiswa Prodi ini berpraktek. Berdasarkan penilaian atas kinerja pelayanan mahasiswa yang bersangkutan dan laporan-laporan lainnya dari Klasis-klasis dan Jemaat-jemaat tentang kinerja pelayanan, perilaku etis dan kesungguhan Mahasiswa yang bersangkutan, Dewan Dosen  bersama-sama dengan Badan Pekerja Am Sinode (atau Badan Kepegawaian GKI yang bertindak atas nama BPAm Sinode) kemudian menetapkan kelulusannya.
  • Mahasiswa yang dinyatakan Lulus Praktek Kevikariatan (vikariat gaya baru) yakni Program Pendidikan Profesi Kependetaan direkomendasikan kepada Badan Pekerja Am Sinode untuk ditetapkan (di SK-kan) dan ditahbiskan menjadi Pendeta GKI di Tanah Papua di tengah-tengah suatu Ibadah Jemaat GKI di Tanah Papua.[8]  Dan untuk seterusnya yang bersangkutan diperlakukan sebagai Pegawai Organik GKI di Tanah Papua, yang wajib tunduk Pada Tata Gereja dan Peraturan-peraturan lainnya yang berlaku di dalam GKI di Tanah Papua.

 

3.  Pengawasan dan Penilaian

Pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Kependetaan (P3K) ini dilakukan oleh STT GKI “I.S. Kijne” dalam koordinasi dengan Badan Pekerja Am Sinode. Untuk maksud itu STT GKI “I.S. Kijne” menunjuk dan mengangkat seorang Direktur Program yang bertanggung jawab penuh merencanakan, mengawasi dan mengendalikan Program ini dan bertanggung jawab penuh kepada Senat Sekolah Tinggi Teologi GKI, c.q. Ketua STT GKI “I.S. Kijne”.

Pengawasan dan pembinaan atas kehidupan moral etik para mahasiswa Program ini pada prinsipnya menjadi tanggung jawab seluruh dosen STT GKI “I.S. Kijne” dengan persetujuan Direktur Prodi Profesi Kependetaan. Untuk maksud itu Direktur Program Profesi Kependetaan dapat membentuk suatu Dewan atau Komisi Profesi yang bertugas membantu Direktur Prodi Kependetaan untuk melakukan pengawasan dan pembinaan atas kehidupan moral-etika mahasiswa Prodi ini. Anggota-anggota Dewan Profesi atau Komisi Professi ini diangkat dari antara para Dosen STT GKI “I. S. Kijne”, para Pendeta Lapangan serta beberapa Anggota Majelis Jemaat yang ditunjuk atas rekomendari BPAm Sinode GKI dan diangkat dengan suatu Surat Keputusan Ketua STT GKI “I.S. Kijne”.

Penilaian atas prestasi akademis mahasiswa prodi ini dilakukan menurut Peraturan Akademik STT GKI “I.S. Kijne” Jayapura.

Pelaksanaan Praktek Kevikariatan dilakukan oleh Direktur Prodi Profesi Kependetaan (P3K) dengan dibantu oleh para Dosen STT GKI “I.S. Kijne”, Para Pendeta Mentor di lapangan, Badan-badan Pekerja Klasis GKI dan Majelis-majelis Jemaat setempat dan dalam koordinasi dengan Badan Pekerja Am Sinode.

  1. Direktur P3K menetapkan Lokasi PKL serta berkoordinasi dengan BPAm Sinode GKI, Badan-badan Pekerja Klasis dan Majelis-majelis Jemaat GKI.
  2. Direktur P3K menunjuk dan menetapkan Pendeta Mentor yang akan bertanggung jawab membimbing, mengarahkan, mengayomi dan menilai mahasiswa Praktek Kevikariatan selama yang bersangkutan menjalani masa Praktek Kevikariatannya di Jemaat-jemaat yang ditentukan.
  3. Untuk memudahkan pengawasan dan pembinaannya maka seorang mahasiswa yang menjalani Praktek Kevikariatan sebaiknya di tempatkan dalam Jemaat di mana mentornya bertugas. Hal ini disebabkan juga karena tujuan Praktek Kevikariatan yang merupakan bentuk lain dari proses vikariaat sesungguhnya merupakan proses pembentukan profesionalisme kependetaan dari seorang mahasiswa yang menjalani masa Praktek Kevikariatan, sehingga yang bersangkutan wajib belajar magang pada mentornya.
  4. Pendeta Mentor bagi mahasiswa yang menjalani masa Praktek Kevikariatan / Vikaris hendaknya adalah:
    • seorang Pendeta Jemaat;
    • berpengalaman kerja minimal 5 (lima) tahun;
    • setia dalam pelayanannya;
    • berkelakuan baik;
    • bukan seorang penggemar  minuman keras (miras);
    • mempunyai kinerja pelayanan yang baik dan patut diteladani dan direkomendasikan oleh Badan Pekerja Klasis setempat.

 

4.   Kampus dan Sarana Pendidikan

Karena penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Kependetaan ini dilaksanaan oleh STT GKI “I. S. Kijne” maka tempat penyelenggaraan (Kampus) Prodi Profesi Kependetaan ini adalah Kampus Sekolah Tinggi Teologi GKI “I.S. Kijne” di Abepura, Jayapura.

Itu berarti Perpustakaan prodi ini adalah Perpustakaan STT GKI “I. S. Kijne” di Abepura.

Sedangkan ruang-ruang belajar beserta kelengkapannya, kamar-kamar tidur mahasiswa/i atau asrama beserta semua kelengkapannya, akan disiapkan (dibangun) oleh STT GKI “I.S. Kijne” dengan dukungan Badan Pekerja Am Sinode GKI. Lokasi penyelenggaraannya dalam kampus, agak terpisah dari vasilitas pendidikan yang digunakan oleh Prodi Stratum 1 dan 2 selama ini. Hal ini akan disesuaikan dengan Rencana Induk Penataan Ulang Kampus atau dengan RENSTRA STT GKI “I.S. Kijne”, sehingga satu bagian kampus dapat digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Prodi Profesi Kependetaan ini. Untuk itu maka pada tahun-tahun yang akan datang minimal sudah jelas bagi kita bagian Kampus STT GKI manakah yang akan disediakan bagi Program Profesi Kependetaan ini berikut biaya pembangunan fasilitas phisik dan biaya penyelenggaraannya.

 

Sekian dan Terima kasih!

****

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel ini ditulis pada : 16 Februari 2014 | Oleh : admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Injil Di Hari :

Sumber Menambahkan Alkitab Di Blog - BaseCamp Setiakawan Follow us: @valenthuba on Twitter | vhuba on Facebook

Pengujung :

Link Internasional :

Twitter RESMI :

Galeri Foto

Kumpulan Foto Kegiatan GKI Di Tanah Papua

Galeri Video

Kumpulan Video Kegiatan GKI Di Tanah Papua